Dunia Matematika

Selamat Datang di Blog Citra

Review Jurnal Internasional

on January 8, 2012

Study on the Inconsistency between a Pre-service Teacher’s Mathematics Education Beliefs and Mathematics Teaching Practice

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Selama beberapa dekade, pendidik matematika secara universal menyerukan penekanan yang lebih besar. Belajar matematika digunakan untuk memahami konteks pemecahan masalah yang diperlukan pada pergeseran paradigma substansial bagi banyak guru, termasuk perubahan dalam konstruksi yang berkaitan dengan pengajaran matematika seperti keyakinan, pengetahuan dan praktek mengajar. Akibatnya, perubahan keyakinan, pengetahuan dan praktek mengajar dalam konteks ini perlu diidentifikasi.

Namun, tantangan untuk meningkatkan calon guru matematika dalam mengajar terus dipengaruhi oleh keyakinan mereka yang berakar dalam pengalaman mereka sebagai mahasiswa matematika dan sering diperkuat oleh praktek-praktek pengajaran tradisional di university konten matematika kursus dan pengalaman lapangan di sekolah-sekolah.

Dari beberapa pengamatan salah satu pelajaran matematika yang diajarkan oleh guru, ditemukan we observed one mathematics lesson that was taught by this teachfound that there were inconsistencies between this teacher’s mathematbahwa ada ketidaksesuaian antara keyakinaneducation beliefs and her mathematics teaching pra dan praktek mengajar guru pendidikan matematika. The main reason Alasan utama untuk ketidaksesuaian ini these inconsistencies was that the pre-service teacher lacked Padalah bahwa guru pra-layanan kekurangan PCK (pedagogical content knowledge) about mathematics teaching(Pengetahuan tentang isi pedagogik) tentang mengajar matematika. Thus, teachDengan demikian, gurueducators should help pre-service teachers to realize that mathematics pendidik harus membantu guru pra-layanan untuk menyadari bahwateaching and learning was very complex process further, should teach pre- mengajar dan belajar matematika adalah proses yang sangat kompleks dan untuk  lebih lanjut harus mengajarkan pra-layanan dengan beberapa strategi mengajar yang lebih banyak dan harus menginstrusikan pre-service guru untuk melakukan refleksi diri dan sebagainya.

Oleh karena itu, penulis sekarang mencoba mengulas kembali mengenai ketidaksesuaian antara keyakinan dan praktek mengajar guru pendidikan matematika. Sehingga diharapkan mampu menjadikan seorang peneliti lebih memahami suatu pemikiran yang nantinya akan digunakan dalam melakukan penelitian.

B.      Rumusan Masalah

    1. Adakah hubungan antara keyakinan dan praktek mengajar guru pendidikan  matematika?
    2. Apakah faktor – faktor yang mempengaruhi ketidaksesuaian antara keyakinan dan praktek mengajar guru pendidikan matematika?
  1. C.     Tujuan
  2. Tujuan Umum
    1. Untuk mengetahui adanya  hubungan antara keyakinan dan praktek mengajar guru pendidikan matematika.
    2. Untuk mengetahui faktor – faktor  yang mempengaruhi ketidaksesuaian antara keyakinan dan praktek mengajar guru pendidikan matematika.
    3. 2.    Tujuan Khusus
      1. Meningkatkan wawasan kita tentang adanya hubungan antara keyakinan dan praktek mengajar guru pendidikan  matematika .
      2. Menambah wawasan tentang faktor – faktor yang mempengaruhi ketidaksesuaian antara keyakinan dan praktek mengajar guru pendidikan matematika.

D.   Manfaat

  1. Manfaat Teoritis

Secara umum review ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pada peningkatan kualitas penelitian ilmiah. Khususnya untuk pedoman dalam menulis skripsi.

2. Manfaat Praktis

Review jurnal ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi mahasiswa khususnya yang akan melakukan penelitian. Sehingga review jurnal ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam melakukan penelitian tersebut.

 

BAB II

KAJIAN TEORI

  1. A.      Hubungan antara Keyakinan dan Praktek Mengajar Guru Pendidikan Matematika.

Hubungan antara keyakinan guru pendidikan matematika dantheir teaching practice was an important topic in teacher education all-round praktek mengajar merupakan topik penting dalam pendidikan guru. the word and many studies focused on this topic directly or indirectlyBanyak penelitian difokuskan pada topik ini secara langsung atau tidak langsung. One of these study findings was that there were inconsistencies betweenSalah satu temuan penelitian ini adalah bahwa ada inkonsistensi antarateachers’ mathematics education beliefs and their teaching practice. pendidikan keyakinan guru matematika dan praktek mengajar mereka.

FExample, Hoyles (1992), in her reviews of research on teacher beliefs, notContoh, Hoyles (1992), dalam tinjauannya penelitian pada keyakinan guru, mencatat bahwa studi ini merupakan bukti inkonsistensi antara keyakinan danbeliefs-in-practice. keyakinan-in-praktek.Fernandes and Vale (1994) found that their two participants

Fernandes dan Vale (1994) menemukan bahwa dua pesertarevealed very similar conceptions of mathematics and problem solving as pre- mengungkapkan konsepsi serupa. Pemecahan masalah sebagai pra-service middle school teachers but as beginning teachers their practiceslayanan guru sekolah menengah dan sebagai guru mulai praktek differed quite substantiallcukup berbeda secara substansial.

Beswick (2004) reported on a case study of oneBeswick (2004) melaporkan pada studi kasus seorangsecondary school teacher that focused on what specific teacher beliefs were guru sekolah menengah yang berfokus pada apa keyakinan guru spesifik relevan dengan ruang kelas praktek guru dalam konteks berbagai kelas.She Dia found that the teacher held beliefs that were consistent with the aims of menemukan bahwa guru memegang keyakinan yang konsisten dengan tujuan dari mathematics education reform movement but there significant differences igerakan reformasi pendidikan matematika tetapi ada perbedaan yang signifikanhis practice in regard to the various classes. pada praktek sehubungan dengan berbagai kelas.

Throughout these studies on the relationship between teachersSelama ini studi tentang hubungan antara keyakinan dan praktek mengajar guru mathematics education beliefs and their teaching practice, we though twpendidikan matematika terdapat dua problems were needed to studymasalah yang diperlukan untuk belajar. One was that most teachers in these studiesSalah satunya adalah bahwa kebanyakan guru dalam studi ini were in primary school or in middle schoolberada di sekolah dasar atau di sekolah menengah. In other words, were thDengan kata lain, di sana inkonsistensi antara keyakinan guru matematika di sekolah tinggi dan their teaching practicpraktek mengajar. The other was that correlative studies in China weYang lainnya adalah penelitian korelatif di Cinanot noticed fully. tidak menyadari sepenuhnya.

Berdasarkan di atas, kita akan mempelajari sebuah sekolah tinggi Cina pre-service mathematics teacher and analyzed the relationship between her mathematicguru matematika dan menganalisa hubungan antara keyakinan education beliefs and her mathematics teacdan praktek mengajar matematika. In this study, Dalam studi ini, kita wanted to know if there were inconsistencies between her mathematingin tahu apakah ada inkonsistensi antara keyakinan dan praktek mengajar matematika. Furthermore, we would explainSelanjutnya akan dijelaskan tentangthe factors that affected these inconsistencies. faktor-faktor yang mempengaruhi inkonsistensi ini.

  1. B.       Faktor – faktor yang Mempengaruhi Ketidaksesuaian antara Keyakinan dan Praktek Mengajar Guru Pendidikan Matematika.

Keyakinan guru berpengaruh sangat kuat pada isi dan implementasi kurikulum, dan sering kali kurikulum diimplementasikan tidak seperti yang seharusnya sesuai dengan yang telah dirancang dan dimaksudkan dalam kurikulum (Cronin-Jones, 1991). Hal ini biasanya terjadi karena guru kesulitan dalam mengimplementasikan kurikulum yang tuntutannya tidak sesuai dan tidak mendukung keyakinan guru tentang mengajar dan belajar matematika. Jelas bahwa posisi keyakinan guru dalam keputusan praktik pengajaran sangat menentukan. Melalui keyakinan ini, guru memilih kegiatan belajar mengajar yang bagaimana yang akan mereka laksanakan. Keyakinan guru ini membentuk hakikat praktik pengajaran guru. Kita harus benar-benar segera menyadari bahwa bagaimana pun kurikulum dikemas dengan sebaik-baiknya, guru akan tetap bertahan dengan keyakinannya, dan tetap mengajar sesuai dengan keyakinannya itu. Keyakinan guru pasti akan berdampak dalam mengimplementasikan kurikulum.

 

BAB III

ISI

  1. A.      Metode Studi I

Study 1 was one conversation including two parts between the authors ofBelajar yang pertama adalah salah satu percakapan dua bagian antara penulis this paper and a Chinese high school pre-service mathematics teacher, teacdan sebuah sekolah tinggi Cina pre-service guru matematikaS. The first part of the conversation was carried out based on . Bagian pertama dari pembicaraan ini dilakukan berdasarkan beberapa researchers’ views that was about mathematics beliefs, and the second part ofpandangan peneliti tentang keyakinan matematika, dan bagian kedua the conversation was carried out based on the spirits of New Basic Curriculdilakukan berdasarkan dasar kurikulum baru Reform in China that was about mathematics education beliefreformasi di Cina tentang keyakinan pendidikan matematika.

Tall (1992) wrote, “Advanced mathematics thinking —-as evidenced bTall (1992) menulis, “matematika Advanced berpikir —- sebagaimana dibuktikan oleh publications in research journals —-is characterized by two importanpublikasi dalam penelitian jurnal —- dicirikan oleh dua components; precise mathematical definitions (including the statement okomponen penting yaitu definisi matematika yang tepat (termasuk laporan axioms in axiomatic theories) and logical deductions based upon taksioma dalam teori aksiomatik) dan pemotongan logis didasarkan pada mereka”.

Moreover, Jennifer thought (2003), “the act of producing new mathematics isSelain itu, Jennifer (2003), “tindakan produksi baru adalah matematika

inherently creative; problem refinement, exploration, and arguments come inheren kreatif, masalah perbaikan, eksplorasi, dan argumentasi datang from within the community, not from an external authority.dari dalam masyarakat bukan dari otoritas eksternal”.

Other researchers, such as Yiying Huang found (2002, 2003), thatPeneliti lain, seperti Yiying Huang (2002, 2003)teachers’ conception of mathematics influenced their teaching behavior of ‘Konsepsi guru matematika mempengaruhi perilaku mengajar mereka mathematics classroomdi dalam kelas. At the same time, teachers’ conception of Pada saat yang sama, konsepsi guru mathematics was one of the most important factors that influenced studentmatematika merupakan salah satu faktor yang paling penting yang mempengaruhi siswa’.conception of mathematic

Based on the above, the first part of the conversation syllabus was someBerdasarkan di atas, bagian pertama dari silabus beberapa questions about mathematics beliefs that asked teacher S to give her opinionspertanyaan tentang keyakinan guru matematika yang meminta S untuk memberikan pendapatnya.

Question 1: Someone said: “The basic of the development ofPertanyaan 1 : Dasar pengembanganmathematics was imagination.”How did you think about this view? matematika adalah imajinasi melihat. Bagaimana pendapat Anda tentang ini?

Question 2: Someone said: “There was no relationship betweenPertanyaan 2 : Tidak ada hubungan antaramathematics and logic.”How did you think about this view? matematika dan logika. Bagaimana pendapat Anda tentang pandangan ini?

Question 3: Someone said: “Mathematics was the collection of facts,Pertanyaan 3 : Matematika adalah kumpulan fakta, rules, formulas and definitionsaturan, rumus dan definisi. When we were solving one mathematicKetika kami menyelesaikan satu masalah matematikaproblem, we selected appropriate rules or formulas according to explicit an, kami memilih aturan yang sesuai atau rumus menurut eksplisit dan implicit hints, and applied these rules or formulas to the process of solvinpetunjuk implisit, dan menerapkan aturan-aturan atau rumus untuk proses pemecahan mathematics problems.”How did you think about this viewmasalah matematika. Bagaimana pendapat Anda tentang pandangan ini?

Question 4: Someone said: “Mathematics was one kind ofPertanyaan 4 : Matematika adalah salah satu jenislanguage.”How did you think about this view? bahasa tampilan. Bagaimana pemikirkan Anda tentang ini?

Question 5: Someone said: “One of the elements of Mathematics beautyPertanyaan 5 : Salah satu elemen matematika yaitu melihat keindahan was fantastic.”How did you think about this viewyang fantastis. Bagaimana pendapat Anda tentang ini?

Question 6: Someone said: “There was a close relationship betweenPertanyaan 6 : Ada hubungan erat antara mathematics and society life.”How did you think about this view?matematika dan kehidupan masyarakat. Bagaimana pendapat Anda tentang pandangan ini?

Question 7: Someone said: “Mathematics was an important componentPertanyaan 7 : Matematika merupakan komponen pentingof human culture.”How did you think about this view? budaya manusia. Bagaimana pendapat Anda tentang pandangan ini?

New Basic Curriculum Reform in China advocated an emphasis onDasar Kurikulum Baru Reformasi di Cina menganjurkan penekanan pada understanding and problem solving in mathematics teaching and learning, anpemahaman dan pemecahan masalah dalam matematika mengajar dan belajar, dan the process of mathematics teaching and learning should be carried out baseproses pengajaran dan pembelajaran matematika harus dilakukan berdasarkan on students’ cognition level, students’ current knowledge and studentspada tingkat kognisi siswa, pengetahuan siswa danexperience. pengalaman siswa. Teachers shouldn’t tell students everything and replace students’ Guru tidak harus memberitahu semua siswa dan ganti learningbelajar siswa. The roles of teachers were an organizer, motivator and leader in Peran guru adalah organizer, motivator dan pemimpin dalamprocess of students learning. proses belajar siswa.

Based on the above, the second part of the conversation syllabus waBerdasarkan di atas, bagian kedua dari silabus percakapan adalah some questions about mathematics education beliefs that asked teacher S tbeberapa pertanyaan tentang keyakinan pendidikan matematika yang meminta guru S untuk give her opinions.memberikan pendapatnya.

Question 1: What the role of a teacher did you think in the process ofPertanyaan 1 : Apa peran guru yang anda pikirkan dalam prosesmathematics teaching and learning? mengajar dan belajar matematika?

Question 2: What the role of students did you think in the process ofPertanyaan 2 : Apa peran siswa yang anda pikirkan dalam proses mathematics teaching and learningmengajar dan belajar matematika?

Question 3: Someone said: “Mathematics teaching was to teach studentsPertanyaan 3 : Mengajar Matematika adalah mengajar siswahow to prove and compute.”And someone said: “Mathematics teaching was to untuk membuktikan dan menghitung. Bagaimana bila mengajar Matematika adalah teach students how to think.”How did you think about these viewsmengajar siswa pandangan berpikir. Bagaimana pendapat Anda tentang ini?

Question 4: Someone said: “Mathematics learning was to memoryPertanyaan 4 : Pembelajaran matematika adalah untuk memori mathematics concepts and propositions, and then applies them to solvmatematika konsep dan proposisi, dan kemudian berlaku untuk memecahkan masalah mathematics problems.”How did you think about these viewsmatematika. Bagaimana menurut Anda tentang pandangan ini?

Question 5: What was the most important aspect in the process ofPertanyaan 5 : Apa aspek yang paling penting dalam proses mathematics learningbelajar matematika?

Question 6: Did you think what the characteristic of those students whoPertanyaan 6 : Apakah Anda memikirkan apa karakteristik dari siswa yang were good at mathematics learning werebagus pada pembelajaran matematika itu?

Question 7: Please said what mathematics teaching and learning was inPertanyaan 7 : Bagaimana mengajar dan belajar matematika menurut Anda own worsendiri.

Analysis for StudyAnalisis Studi I

The First Part: Bagian Pertama:

(The first Author) L: Someone say: “The basic of the development of(Penulis pertama) L : Dasar pengembangan mathematics is imagination.”How do you think about this viewmatematika adalah imajinasi melihat. Bagaimana menurut Anda tentang ini?

(Teacher S) S: Because reasoning is based on imagination, I agree to this(Guru S) S : Karena penalaran didasarkan pada imajinasi, saya setuju untuk iniview. For example, when we think about some mathematics questions,Sebagai contoh, ketika kita berpikir tentang beberapa pertanyaan matematikasuddenly, inspiration visits us. tiba-tiba dapat inspirasi. Then, we begin to reason and could get soKemudian, kita mulai dengan akal dan bisa mendapatkan beberaparesults. hasil.

L: Okay.L : Someone say: “There is no relationship between matheTidak ada hubungan antara matematika and logic.”How do you think about this viedan logika. Bagaimana pendapat Anda tentang pandangan ini?

S: I don’t agree to this view.S : Saya tidak setuju dengan pandangan ini. There are close relationships between Ada hubungan erat antara  mathematics and logicmatematika dan logika. That is to say, mathematics is a logical and consistent Artinya, matematika adalah logis dan konsisten discipline as opposed to a collection of facsebagai lawan kumpulan fakta.

L: Someone say: “Mathematics is the collection of facts, rules, formulasL : Matematika adalah kumpulan fakta, aturan, rumusand definitions. dan definisi. When we are solving one mathematics problem, we selecKetika kita menyelesaikan satu masalah matematika, kita pilih appropriate rules or formulas according to explicit and implicit hints, ansesuai aturan atau formula sesuai petunjuk eksplisit dan implisit dan apply these rules or formulas to the process of doing mathematicmenerapkan aturan atau rumus untuk proses melakukan masalah matematikaproblems.”How do you think about this vi. Bagaimana pendapat Anda tentang pandangan ini?

S: I don’t agree to this view.S : Saya tidak setuju dengan pandangan ini. The description of doing mathematics is toGambaran matematika terlalu kstrictly.etat. Actually, doing mathematics is flexible and it needs abundanSebenarnya, melakukan matematika adalah fleksibel dan kebutuhan melimpahimagination. imajinasi.

L: Someone say: “Mathematics is one kind of language.”How do youL : Matematika adalah salah satu bentuk bahasa. Bagaimana Anda think about this viewberpikir tentang pandangan ini?

S: I think this is true.S : Saya pikir ini benar. Mathematics plays an important role in ouMatematika memainkan peran penting dalam communicationkomunikasi.

L: Someone say: “One of the elements of Mathematics beauty isL : Salah satu elemen Matematika yaitu keindahan fantastic.”How do you think about this viewfantastis Bagaimana pendapat Anda tentang pandangan ini?

S: Yes, I have the same feeling.S : Ya, saya memiliki perasaan yang sama. After I have done one mathematicsSetelah saya lakukan satu masalah matematikaproblem, the feeling is very wonderful, and I feel mathematics is beautiful an, perasaan itu sangat indah dan saya merasa matematika itu indah dan fantastic deeplysangat fantastis.

L: Someone say: “There are close relationships between mathematicsL : Ada hubungan erat antara matematika and society life.”How do you think about this viewdan kehidupan masyarakat. Bagaimana pendapat Anda tentang pandangan ini?

S: I think so.S : Saya kira begitu. Mathematics is an indispensable tool in our lifeMatematika merupakan alat yang sangat diperlukan dalam kehidupan kita. Matematika benar – benar menarik. Oh,mathematics is really int

L: Do you think mathematics is interesting?L : Apakah Anda pikir matematika menarik?

S: Yes, I think mathematics is very interesting.S : Ya, saya pikir matematika sangat menarik. I remember when I studieSaya ingat ketika saya belajar in the primary school, my mother sent me to learn Olympic mathematicsdi sekolah dasar, ibu saya mengirim saya untuk belajar Olimpiade matematika. Since that time, I have been keeping dense interesting into mathematicSejak saat itu, aku telah tertarik dalam belajar matematika.lear

L: Yeah.L : Someone say: “Mathematics is an important componeMatematika merupakan komponen penting dari human culture.”How do you think about this view?budaya manusia melihat. Bagaimana menurut Anda tentang ini?

S: I agree to this view.S : Saya setuju dengan pandangan ini. Mathematics has been existed since people beganMatematika telah ada sejak orang mulaito learn how to count. belajar bagaimana menghitung. Mathematics history is very long. Sejarah Matematika sangat panjang.

Based upon some researchers’ views, such as Yiying Huang (2002,Berdasarkan peneliti pandangan beberapa, seperti Yiying Huang (2002,2003), we could put mathematics belief into three views, which was th2003), kita bisa menempatkan matematika kepercayaan menjadi tiga pandangan, yang merupakan tampilanproblem-solving view, the Platonist view and the instrumentalist view. pemecahan masalah, tampilan Platonis dan tampilan instrumentalis. Theproblem-solving view meant that mathematics was dynamic discipline anPemecahan masalah berarti pandangan bahwa matematika adalah disiplin, dinamis dan was developed by problem solvingdikembangkan oleh pemecahan masalah. The Platonist view meant thaPandangan Platonis berarti bahwa mathematics was one discipline with precise structure that was organized bmatematika adalah salah satu disiplin dengan struktur yang tepat yang diselenggarakan oleh logilogika. The instrumentalist view meant that mathematics was a tool collectionPandangan instrumentalis berarti bahwa matematika merupakan kumpulan alatof facts, rules, formulas and definitions. fakta, aturan, rumus dan definisi. People could use mathematics tOrang bisa menggunakan matematika untuksolve problems. memecahkan masalah.

Teacher S’ above answers showed that her mathematics belief was prone Jawaban Guru S di atas menunjukkan bahwa keyakinannya dalam matematika adalah rawan to the problem-solving viewke tampilan pemecahan masalah. For example, she said mathematics was logicSebagai contoh, katanya matematika logisand there were close relationships among its facts, rules, formulas and dan ada hubungan yang erat antara fakta aturan, rumus dan definitionsdefinisi. Mathematics invention needed both imagination and reasoning. Penemuan Matematika diperlukan baik imajinasi dan penalaran. She thought mathematics was interesting, fantastic and beautifulDia pikir matematika itu menarik, fantastis dan indah. SpeciallyKhusus, her feeling was very good after mathematics problems had been solvedperasaan sangat baik setelah masalah matematika telah terpecahkan. Teacher S also thought mathematics played an important role in oGuru S juga berpikir matematika memainkan peran penting dalam communicatiokomunikasi. Mathematics had close relationships with society life, and iMatematika memiliki hubungan dekat dengan kehidupan masyarakat, dan was an important component of human culturemerupakan komponen penting dari budaya manusia.

(At the end of the first part of the conversation, the first author of this (Pada akhir bagian pertama dari percakapan, penulis paper asked teacher S to see the three above views about mathematics meminta guru S untuk melihat tiga pandangan di atas tentang keyakinan matematika.After several minutes, the first author of this paper continued to ask teacher S Setelah beberapa menit, penulis pertama  terus bertanya pada guru S the following questions sebagai berikut : ) )

L: Please see the three views about mathematics belief, which is theL : Silakan lihat tiga pandangan tentang kepercayaan matematika yang merupakan tampilan problem-solving view, the Platonist view and the instrumentalist viewpemecahan masalah, tampilan Platonis dan tampilan instrumentalis. Whicview do you agApakah Anda setuju?

S: Let me see.S : Comparing with the three views, I prefer to select theBandingkan dengan tiga pandangan, saya lebih memilih untuk memilih tampilanproblem-solving view. pemecahan masalah. I think the Platonist view doesn’t reveal the fact thSaya pikir pandangan Platonis tidak mengungkapkan fakta bahwamathematics needs innovation and its development keeps moving. matematika perlu inovasi dan pengembangan yang terus bergerak. ThPinstrumentalist view only reveals a part of mathematiandangan instrumentalis hanya mengungkapkan sebagian dari nilai matematika.Certainly, Tentu saja,mathematics is a useful tool and plays an important role in our life, but this is matematika adalah alat yang berguna dan memainkan peran penting dalam kehidupan kita, tapi ini one mathematics valuesatu nilai matematika. Mathematics has much other value, such as science Matematika telah banyak nilai lain, seperti nilai ilmuvalue, humanism value, thinking value and so on., nilai humanisme, nilai berpikir dan sebagainya.

Obviously, the answer was consistent with her above answers about theJelas, jawabannya adalah konsisten dengan jawaban atas-nya tentang conversation syllabuspercakapan silabus.

The Second Part:Bagian Kedua :

L: What the role of a teacher do you think in the process of mathematicsL : Apa peran guru menurut Anda dalam prosesteaching and learning? mengajar dan belajar matematika?

S: First of all, a teacher should make students to be interesting inS : Pertama-tama, seorang guru harus membuat siswa menjadi menarik dimathematics learning. belajar matematika. Then, he/she should be an organizer, motivator and Kemudian, ia harus menjadi organizer, motivator dan leader in the process of students learningpemimpin dalam proses belajar siswa.

L: How about students?L : Bagaimana dengan siswa?

S: Students should be the host in the process of mathematics learningS : Siswa harus menjadi tuan rumah dalam proses belajar matematika and think about mathematics questions activelydan berpikir tentang pertanyaan matematika aktif.

L: Someone say: “Mathematics teaching is to teach students how toL : Mengajar Matematika adalah mengajar siswahow to prove and compute.”And someone said: “Mathematics teaching was to untuk membuktikan dan menghitung. Bagaimana bila mengajar Matematika adalah teach students how to think.”How did you think about these viewsmengajar siswa pandangan berpikir. Bagaimana pendapat Anda tentang ini?

S: First, I don’t agree to the expression “teach students”.S : Pertama, saya tidak setuju dengan ungkapan “mengajar siswa”. In theDalam mathematics learning, students must think about mathematics questions bbelajar matematika, siswa harus berpikir tentang pertanyaan matematika dengan themselves and teachers only help them to studysendiri dan guru hanya membantu mereka untuk belajar. Based on this view, I choosBerdasarkan pandangan ini, saya memilih the latter view.tampilan terakhir. Certainly, mathematics teaching and learning should teach Tentu saja, pengajaran dan pembelajaran matematika harus mengajar students how to prove and compute, but the ultimate and essential aim is tsiswa bagaimana untuk membuktikan dan menghitung, tetapi yang terpenting tujuan utamanya adalah untuk teach students how to thinkmengajar siswa bagaimana berpikir.

L: Someone say: “Mathematics learning is to memory mathematicsL : Matematika belajar adalah untuk matematika memori concepts and propositions, and then applies them to solve mathematicskonsep dan proposisi, dan kemudian berlaku mereka untuk memecahkan masalah matematikaproblems.”How do you think about these views?. Bagaimana pendapat Anda tentang pandangan ini?

S: As to this view, I think we needn’t memorize mathematics conceptsS : Seperti untuk melihat ini, saya pikir kita tidak perlu menghafal konsep-konsep matematikaand propositions mechanically. dan proposisi mekanis.Mathematics understanding plays an important Pemahaman Matematika memainkan peran penting role in mathematics learnindalam pembelajaran matematika.

L: What is the most important aspect in the process of mathematicsL : Apa aspek yang paling penting dalam proses belajar matematikalearning?

S: Interest.S : Bunga. Interest is the most important aspect in mathematics learningBunga adalah aspek yang paling penting dalam pembelajaran matematika. Just as interest, I like mathematics since I learned Olympic mathematics iSama seperti bunga, saya suka matematika karena saya belajar olimpiade matematika primary schoolsekolah dasar.

L: Do you think what the characteristics of those students who are goodL : Apakah Anda memikirkan apa ciri-ciri mahasiswa yang baik at mathematics learning aredi belajar matematika?

S: The basic characteristic is that they have many possible solvingS : Karakteristik dasar adalah bahwa mereka memiliki banyak kemungkinan memecahkanproblems approaches when they encounter one mathematics problems. masalah pendekatan ketika mereka menghadapi satu masalah matematika. Then,Kemudian, they should often pose mathematics questions, especially those mathematicmereka harus sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan matematika, khususnya questions that could arose mathematics thinkingpertanyaan matematika yang bisa muncul pola pikir matematis.

L: Please say what mathematics teaching and learning is in own words.L : Silahkan katakan apa mengajar dan belajar matematika dengan kata-kata sendiri.

S: Mathematics teaching and learning is students’ own mathematicsS : Mengajar Matematika dan belajar matematika sendiri siswa learning that was organized by teacherspembelajaran yang diselenggarakan oleh guru. Furthermore, if a teacher gives Selain itu, jika seorang guru memberikan students a little hint, students could get more information according to thessiswa sedikit petunjuk,  para siswa dapat memperoleh informasi lebih menuruthints. petunjuk. That is to say, mathematics teaching isn’t the process that a teacher tells Artinya, mengajar matematika bukanlah proses seorang guru mengatakan students everything, but the process that a teacher should leave sufficient spasemuanya, tapi proses yang  harus meninggalkan ruang yang cukup and time for students exploringdan waktu bagi siswa menjelajahi.

From the above teacher S’answers, we could see teacher S hold dynamiDari jawaban guru di atas, kita bisa melihat guru terus dinamis tentang keyakinan mathematics education beliefs that a teacher should help students to lematematika bahwa pendidikan seorang guru harus membantu siswa untuk belajar mathematics but not tell students everythingmatematika tetapi tidak menceritakan semua pada siswa. In the process of mathematicDalam proses pteaching and learning, mathematics teacher should pay attention to inspipengajaran dan pembelajaran matematika, guru harus memperhatikan dan menginspirasi students learning interest, accelerate students’ mathematics understandingsiswa belajar bunga, mempercepat pemahaman matematika siswa, culture students’ mathematics learning activitysiswa belajar matematika budaya aktivitas. And she thought students whoDan dia pikir siswa yang were good at mathematics were those that could put award good mathematicbagus di matematika adalah mereka yang bisa menempatkan baik penghargaan questions and had better mathematics thinkingpertanyaan dan telah lebih baik berpikir. Thus, teacher S’ mathematicDengan demikian,education beliefs were consistent with the spirits of New Basic Curriculum keyakinan guru pendidikan matematika adalah konsisten dengan Dasar Kurikulum Baru Reform in China.Reformasi di Cina.

  1. B.       Method for StudMetode  Studi II

In Study 2, we would research one mathematics lesson that was taughtDalam Studi 2, kita akan riset satu pelajaran matematika yang diajarkan by teacher S according to Stein, and Smith (1998) higher-level demands anoleh guru S menurut Stein, dan Smith (1998) lebih tinggi tingkat tuntutan dan lower-level demands mathematics taskstingkat bawah tuntutan tugas matematika.

Lower-Level Demands (Memorization)Lower-Level Tuntutan (Menghafal)

  • · Involve either reproducing previously learned facts, rules, formulas or · Libatkan baik mereproduksi belajar fakta-fakta sebelumnya, aturan, rumus atau

definitions or committing facts, rules, formulas or definitions to definisi atau melakukan fakta, aturan, rumus atau definisi untukmemory. memori.

  • · Cannot be solved using procedures because a procedure does not exist · Tidak dapat diselesaikan dengan menggunakan prosedur karena prosedur tidak adaor because the time frame in which the task is being completed is too atau karena kerangka waktu di mana tugas sedang diselesaikan terlalu short to use a proceduresingkat untuk menggunakan prosedur.
  • · Are not ambiguous. · Apakah tidak ambigu, Such tasks involve the exact reproduction of tugas-tugas tersebut melibatkan reproduksi tepat previously seen material, and what is to be reproduced is clearly ansebelumnya dipandang material, dan apa yang harus direproduksi jelas dan directly statedlangsung.
  • · Have no connection to the concepts or meaning that underlie the facts, · Apakah ada koneksi ke konsep atau makna yang mendasari fakta, rules, formulas, or definitions being learned or reproducedaturan, rumus, atau definisi yang dipelajari atau direproduksi.
  • · Lower-level demands (procedures without connections to meaning ): · rendah tingkat permintaan (prosedur tanpa koneksi ke makna):
  • · Are algorithmic. · Apakah algoritmik. Use of the procedure either is specifically called forPenggunaan prosedur baik secara khusus menyerukan or is evident from prior instruction, experience, or placement of theatau jelas dari instruksi sebelumnya, pengalaman, atau penempatan tasktugas.
  • · Require limited cognitive demand for successful completion. · Perlu terbatas permintaan kognitif untuk menyelesaikan sukses. LittlSedikit ambiguity exists about what needs to be done and how to do itada ambiguitas tentang apa yang perlu dilakukan dan bagaimana melakukannya.
  • · Have no connection to the concepts or meaning that underlie the · Apakah ada koneksi ke konsep atau makna yang mendasari procedure being used.prosedur yang digunakan.
  • · Are focused on producing correct answers instead of on developing · Apakah terfokus pada menghasilkan jawaban yang benar, bukan pada pengembangan mathematical understandingpemahaman matematika.
  • · Require no explanations or explanations that focus solely on describing · Perlu ada penjelasan atau penjelasan yang hanya berfokus pada menggambarkan the procedure that was usedprosedur yang digunakan.
  • · Higher-level demands (procedures with connections to meaning): · Tinggi tingkat permintaan (prosedur dengan koneksi ke makna):
  • · Focus students ‘ attention on the use of procedures for the purpose of · Fokus siswa perhatian pada penggunaan prosedur untuk tujuan developing deeper levels of understanding of mathematical conceptmengembangkan level yang lebih dalam pemahaman tentang konsep-konsep matematika and ideasdan ide.
  • · Suggest explicitly or implicitly pathways to follow that are broad · Sarankan secara eksplisit maupun implisit jalur untuk mengikuti yang luas general procedures that have close connections to underlyinumum prosedur yang memiliki koneksi dekat dengan mendasari conceptual ideas as opposed to narrow algorithms that are opaquide konseptual sebagai lawan untuk mempersempit algoritma yang buram with respect to underlying conceptsberkaitan dengan konsep dasar.
  • · Usually are represented in multiple ways, such as visual diagrams, · Biasanya diwakili dalam berbagai cara, misalnya diagram visual, manipulative, symbols, and problem situationsmanipulatif, simbol, dan masalah situasi. Making connectionsMembuat sambunganamong multiple representations helps develop meaning. antara beberapa representasi membantu mengembangkan makna.
  • · Require some degree of cognitive effort. · Memerlukan beberapa derajat upaya kognitif. Although general proceduresMeskipun secara umummay be followed, they cannot be followed mindlessly. bisa diikuti, mereka tidak dapat diikuti tanpa berpikir. Students needSiswa perluto engage with conceptual ideas that underlie the procedures to untuk terlibat dengan ide-ide konseptual yang mendasari prosedurcomplete the task successfully and that develop understanding. menyelesaikan tugas dengan sukses dan mengembangkan pemahaman.
  • · Higher-level demands (doing mathematics): · Tinggi tingkat permintaan (matematika lakukan):
  • · Require complex and no algorithmic thinking a predictable, well- · Perlu kompleks dan tidak berpikir algoritmik yang dapat diprediksi, baikrehearsed approach or pathway is not explicitly suggested by the task, pendekatan berlatih atau jalur tidak secara eksplisit disarankan oleh tugas,task instructions, or a worked-out example. instruksi tugas, atau contoh-out bekerja.
  • · Require students to explore and understand the nature of mathematical · Perlu siswa untuk mengeksplorasi dan memahami sifat matematikaconcepts, processes, or relationships. konsep, proses, atau hubungan.
  • · Demand self-monitoring or self-regulation of one ‘ s own cognitive · Permintaan pemantauan diri atau self-regulasi satu  kognitif processesproses.
  • · Require students to access relevant knowledge and experiences and · Perlu siswa untuk mengakses pengetahuan yang relevan dan pengalaman dan make appropriate use of them in working through the task.membuat penggunaan yang tepat dalam bekerja melalui tugas.
  • · Require students to analyze the task and actively examine task · Perlu siswa untuk menganalisis tugas dan aktif memeriksa tugasconstraints that may limit possible solution strategies and solutions. kendala yang mungkin membatasi strategi solusi dan solusi yang mungkin.
  • · Require considerable cognitive effort and may involve some level of · Perlu cukup upaya kognitif dan mungkin melibatkan beberapa tingkatanxiety for the student because of the unpredictable nature of the kecemasan untuk siswa karena sifat tak terduga darisolution process required. Proses solusi yang dibutuhkan.

Teaching Episode and AnalysiC.  Hasil

From study 1 and study 2, we could see there were some inconsistenciesDari studi 1 dan studi 2, kita bisa melihat ada beberapa inkonsistensi between teacher S’ mathematics education beliefs and her mathematicantara keyakinan dan teaching prapraktek mengajar guru matematika. As stated earlier in this paper, although teacher S’ mathematics beliefSeperti yang dinyatakan sebelumnya dalam makalah ini, meskipun keyakinan guru matematika was the problem-solving view and her mathematics education beliefs weradalah tampilan pemecahan masalah dan keyakinan guru pendidikan matematika adalah consistent with the spirits of New Basic Curriculum Reform in China, hekonsisten dengan Dasar Kurikulum Baru Reformasi di Cina, mathematics teaching practice didn’t show her mathematics education beliepraktek mengajar matematika tidak menunjukkan keyakinan guru. For example, she didn’t give some learning tasks clearly, she didn’t giveSebagai contoh, ia tidak memberikan tugas-tugas belajar dengan jelas, ia tidak memberikan students sufficient time for exploring mathematics questions, she didn’t lesiswa waktu yang cukup untuk menjelajahi pertanyaan matematika, ia tidak membiarkan students think about mathematics question by themselvessiswa berpikir tentang matematika pertanyaan sendiri. All these teaching Semua pengajaran ini behaviors weren’t consistent with her mathematics education beliefsperilaku tidak konsisten dengan keyakinan pendidikan matematikanya.

Gill (2004) thought that changing strongly held prior beliefs aboutInsang (2004) berpikir bahwa mengubah keyakinan yang dipegang teguh sebelumnya mengenaiacademic concepts was difficult when those beliefs conflicted with instruction. konsep akademis sulit ketika keyakinan bertentangan dengan instruksi. Teachers’ domain-specific epistemological beliefs, which was, their beliefsGuru domain-spesifik epistemologis keyakinan, kepercayaan merekaabout the nature of knowledge and teaching and learning in mathematics, tentang sifat pengetahuan dan pengajaran dan pembelajaran dalam matematika,contributed to the difficulties in changing their teaching practices. berkontribusi pada kesulitan dalam mengubah praktek pengajaran mereka. At the samePada saat yang samatime, mathematics teachers’ general epistemological belief, specifically t, umum epistemologis keyakinan guru matematika, khususnya yangknowledge was simple and certain, contributed to their resistance to change. pengetahuan sederhana dan tertentu, memberikan kontribusi untuk ketahanan terhadap perubahan.

Throughout our observation and interview, we thought the main reasonSepanjang pengamatan dan wawancara, kami pikir alasan utamafor these inconsistencies between teacher S’ mathematics education beliefs and untuk inkonsistensi antara keyakinan guru matematika danher mathematics teaching practice was that teacher S lacked pertinent dia berlatih mengajar matematika adalah bahwa guru kurang relevanknowledge about mathematics teaching, especially PCK (pedagogical content pengetahuan tentang mengajar matematika, terutama PCK (konten pedagogisknowledge). pengetahuan).

Shulman (1987) proposed a framework for analyzing teachers’Shulman (1987) mengusulkan kerangka kerja untuk menganalisis guruknowledge that distinguished different categories of knowledge: knowledge of pengetahuan yang membedakan kategori yang berbeda dari pengetahuan : pengetahuancontent, general pedagogical knowledge, curriculum knowledge, pedagogical isi umum pengetahuan pedagogi, pengetahuan kurikulum, pedagogicontent knowledge (PCK), knowledge of students, knowledge of educational isi pengetahuan (PCK), pengetahuan siswa, pengetahuan pendidikancontexts and knowledge of educational ends, purposes and values. konteks dan pengetahuan tentang pendidikan tujuan berakhir, dan nilai-nilai. HeDiaemphasized PCK as a key aspect to address in the study of teaching. menekankan PCK sebagai aspek kunci untuk mengatasi dalam studi pengajaran.

The analysis for study 2 showed that teacher S lacked PCK because sheAnalisis untuk studi 2 menunjukkan bahwa kekurangan guru PCK karena dia had little mathematics teaching experiencememiliki sedikit pengalaman mengajar matematika. She didn’t know how to leadDia tidak tahu bagaimana memimpinstudents to analyze mathematics problems, how to express learning concept. siswa untuk menganalisis masalah matematika, bagaimana mengekspresikan konsep pembelajaran. Facing to students’ answer, she couldn’t correct their understanding errors.Menghadapi untuk menjawab siswa, dia tidak bisa memperbaiki kesalahan pemahaman mereka. SheDiahad no choice but to tell students some results. tidak punya pilihan selain untuk memberitahu murid-murid beberapa hasil. Thus, her mathematicsDengan demikian, education beliefs weren’t consistent with her teaching behavior sometimes.keyakinan matematika tidak konsisten dengan perilaku mengajar kadang-kadang.

After this lesson, the authors of this paper asked teacher S to say herSetelah pelajaran ini, penulis makalah ini meminta guru S mengatakanfeeling about this mathematics lesson. Perasaan dia tentang pelajaran matematika.Teacher S said that her feeling was not Guru S mengatakan bahwa perasaannya tidak

good. baik. She felt her prearrange teaching project couldn’t be carried out in theDia merasa dia mengatur sebelumnya proyek mengajar tidak bisa dilakukan diprocess of this mathematics lesson and she couldn’t help students to proses ini pelajaran matematika dan dia tidak bisa membantu siswa untukunderstand mathematics. memahami matematika. She was very regretful for this mathematics lesson.Dia sangat menyesal untuk pelajaran matematika.Thus, Pre-service teachers should strengthen their learning about teacher

Dengan demikian, Pre-service guru harus memperkuat pembelajaran mereka tentang guruknowledge, especially PCK. pengetahuan, khususnya PCK. This needed teacher educators to help them, suchPendidik guru ini diperlukan untuk membantu mereka, sepertias to give more practice chance. untuk memberikan kesempatan latihan lagi. Especially, the followings should be noticed:Terutama harus diperhatikan:

First, teacher educators should make pre-service teachers realizePendidik guru harus membuat pre-service guru menyadarimathematics teaching and learning was very complex process further. pembelajaran matematika adalah proses yang sangat kompleks lebih lanjut. In thDalamprocess of mathematics teaching and learning, many factors effected proses belajar-mengajar matematika, banyak faktor berpengaruh mathematics teachers’prearrange, such as students’answerteachers’prearrange matematika, seperti students’answer. Teachers shouldn’tGuru seharusnya tidakignore students’ learning response, including their silence. mengabaikan respon belajar siswa, termasuk siswa diam. Because theirKarena merekasilence meant that they had no interesting into mathematics learning, or they diam berarti bahwa mereka tidak menarik ke dalam pembelajaran matematika, atau merekacouldn’t understand mathematics questions. tidak mengerti pertanyaan matematika.But interesting and understan

 

 

BAB IV

PEMBAHASAN

 

  1. A.      Hubungan antara Keyakinan dan Praktek Mengajar Guru Pendidikan Matematika.

Berbagai penelitian dalam pendidikan matematika mengindikasikan bahwa keyakinan guru tentang matematika dan pengajarannya memainkan peranan yang signifikan dalam pembentukan pola karakter guru dalam tingkah laku pembelajaran. Dalam makalah yang bersifat teoritis yang didasarkan atas temuan empirik dalam penelitian keyakinan guru, Ernest (1988) mencatat bahwa diantara elemen kunci yang mempengaruhi praktek pengajaran matematika, ada tiga yang perlu dicatat, yaitu :

  1. Mental konten atau skema guru, khususnya sistem keyakinan yang terkait dengan kepedulian terhadap matematika, pengajarannya dan pembelajarannya.
  2. Hubungan sosial dalam situasi pembelajaran, khususnya hambatan dan peluang yang ada.
  3. Tingkatan guru dalam proses berpikir dan refleksi.

Keyakinan guru dan dampaknya pada praktek mengajar.

Dalam Undang – undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional berdampak luas pada semua bidang pendidikan, termasuk dalam hal tenaga pendidikan. Pada Bab XI Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pasal 39 ayat (2) dinyatakan bahwa “Pendidik merupakan tenaga profesional. . . .”. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyuratkan bahwa pendidik sebagai agen pembelajaran harus menguasai kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Penafsiran kompetensi tersebut lebih lanjut dapat dirangkum seperti pada gambar berikut :

PENGETAHUAN

   KOMPETENSI

KETERAMPILAN

PENGALAMAN

SIKAP/NILAI/KEYAKINAN

BAB V

Menurut Mohamad Surya (2004: 92), kompetensi adalah keseluruhan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan oleh seseorang dalam kaitan dengan sesuatu tugas. Kompetensi guru adalah pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang harus ada pada seorang guru agar dapat menunjukan perilakunya sebagai guru. Kompetensi guru meliputi kompetensi personal, kompetensi professional, kompetensi sosial, kompetensi intelektual, dan kompetensi spiritual. Guru yang berkompetensi memerlukan pembelajaran.

Kompetensi seorang guru terdiri dari beragam komponen dan sifatnya sangat pribadi dan utuh. Pernyataan ini sejalan dengan konsep kompetensi guru yang didefinisikan oleh Departemen Pendidikan Nasional (2001) yang menyatakan bahwa :

“Kompetensi bersifat personal dan kompleks serta merupakan satu kesatuan utuh yang menggambarkan potensi yang mencakup pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai, yang dimiliki seseorang yang terkait dengan profesi tertentu berkenaan dengan bagian – bagian yang dapat diaktualisasikan atau diwujudkan dalam bentuk tindakan atau kinerja untuk menjalankan profesi tersebut”.

Tersirat dalam pernyataan di atas bahwa guru harus mampu menggunakan aspek – aspek kompetensi tersebut dalam kehidupan dan pekerjaan sehari – harinya, dan jika dampak dari tindakan atau kinerjanya dapat diterima dan sesuai dengan nilai masyarakat di lingkungannya, barulah dapat dikatakan sebagai seorang guru profesional yang kompeten.

  1. B.       Faktor – faktor yang Mempengaruhi Ketidaksesuaian antara  Keyakinan dan Praktek Mengajar Guru Pendidikan Matematika.

Peneliti kini berbeda pandangan dan telah menyadari bahwa keyakinan guru berpengaruh sangat kuat pada isi dan implementasi kurikulum, dan sering kali, kurikulum diimplementasikan tidak seperti yang seharusnya sesuai dengan yang telah dirancang dan dimaksudkan dalam kurikulum (Cronin-Jones, 1991). Hal ini biasanya terjadi karena guru kesulitan dalam mengimplementasikan kurikulum yang tuntutannya tidak sesuai dan tidak mendukung keyakinan guru tentang mengajar dan belajar matematika. Jelas bahwa posisi keyakinan guru dalam keputusan praktik pengajaran sangat menentukan. Melalui keyakinan ini, guru memilih kegiatan belajar mengajar yang bagaimana yang akan mereka laksanakan. Keyakinan guru ini membentuk hakikat praktik pengajaran guru. Kita harus benar-benar segera menyadari bahwa bagaimana pun kurikulum dikemas dengan sebaik-baiknya, guru akan tetap bertahan dengan keyakinannya, dan tetap mengajar sesuai dengan keyakinannya itu. Keyakinan guru pasti akan berdampak dalam mengimplementasikan kurikulum.

BAB V

SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

  1. A.   SIMPULAN
    1. Keyakinan mempengaruhi perkembangan program kesiapan calon guru. Program persiapan calon guru matematika berfungsi untuk memudahkan calon guru memahami pembelajaran yang akan disampaikan. Seorang calon guru harus mnegetahui komptensi yang dimiliki, setelah itu dikembangkan dengan pembelajaran. Dengan mengetahui komptensi dan pembelajaran guru menjadi yakin dengan kapasitasnya. Program yang dialami oleh calon guru termasuk perkembangan dua metode matematika urutan dan waktu intensif mengembangkan penempatan bidang mental, mempengaruhi keyakinan ini. Efek dari program pada keyakinan calon guru bervariasi dari waktu ke waktu dan berinteraksi dengan cara yang berbeda satu sama lain dan dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi mengajar matematika. Beberapa perubahan signifikan dalam konstruksi keyakinan terjadi selama metode pertama saja sementara beberapa yang terjadi selama kursus kedua. Temuan ini menunjukkan nilai metode kedua kursus untuk mendukung perubahan keyakinan yang berkelanjutan. Selain itu, model pengembangan program-program studi dan bidang penempatan memungkinkan kami untuk mengkaji bagaimana pengalaman yang berbeda di bawah dan atas dasar nilai terutama terkait dengan konten matematika di kelas tersebut dipengaruhi keyakinan.
    2. Faktor – faktor yang mempengaruhi ketidaksesuaian antara keyakinan dan praktek mengajar guru pendidikan matematika antara lain : Keyakinan guru berpengaruh sangat kuat pada isi dan implementasi kurikulum, dan sering kali, kurikulum diimplementasikan tidak seperti yang seharusnya sesuai dengan yang telah dirancang dan dimaksudkan dalam kurikulum (Cronin-Jones, 1991). Hal ini biasanya terjadi karena guru kesulitan dalam mengimplementasikan kurikulum yang tuntutannya tidak sesuai dan tidak mendukung keyakinan guru tentang mengajar dan belajar matematika. Jelas bahwa posisi keyakinan guru dalam keputusan praktik pengajaran sangat menentukan. Melalui keyakinan ini, guru memilih kegiatan belajar mengajar yang bagaimana yang akan mereka laksanakan. Keyakinan guru ini membentuk hakikat praktik pengajaran guru. Kita harus benar-benar segera menyadari bahwa bagaimana pun kurikulum dikemas dengan sebaik-baiknya, guru akan tetap bertahan dengan keyakinannya dan tetap mengajar sesuai dengan keyakinannya itu. Keyakinan guru pasti akan berdampak dalam mengimplementasikan kurikulum.
  1. B.       IMPLIKASI

Simpulan diatas nantinya dapat dijadikan pedoman untuk seorang peneliti agar dapat memanfaatkan paradigma terhadap fenomena yang ada untuk menyelidiki suatu permasalahan. Selain itu juga diharapkan nantinya seorang peneliti mampu secara mandiri mengetahui tentang ketidaksesuaian antara keyakinan dan praktek mengajar guru pendidikan matematika dan bisa mengaplikasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari.

 

  1. C.      SARAN
  2. Penulis menyarankan agar nantinya untuk peneliti berikutnya mampu mendalami lebih detail lagi tentang ilmu pengetahuan dan pengetahuan dalam kehidupannya.
  3. Untuk bahan kajian berikutnya diharapkan mampu menggunakan sumber teori yang lebih banyak dan menambah bahan kajian untuk review jurnal ini.

DAFTAR PUSTAKA

 

http://www.springgerlink.com di akses tanggal 1 Maret 2011

http://massofa.wordpress.com di akses tanggal 1 Maret 2011

http://www.iejme.com di akses tanggal 1 Maret 2011

http://www.msme.us di akses tanggal 1 Maret 2011

http://nonosrblogspot.com  di akses tanggal 5 April 2011

http://syarifartikel.blogspot.com di akses tanggal 5 April 2011

http://matematikaonline.ueuo.com di akses tanggal 5 April 2011


2 responses to “Review Jurnal Internasional

  1. Rizky says:

    mbaak. mau tanya.. ini review-an mbak? atau org?
    soalnyee saya mau liat ni review jurnal.. buat tugas salah satu mata kuliah saya…
    minta penjelasannya ya mbaak🙂
    trima kasih🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: