Dunia Matematika

Selamat Datang di Blog Citra

ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR (ISBD)

on January 8, 2012
  1. HUBUNGAN AGAMA DENGAN KEBUDAYAAN

Agama Merupakan Bagian Kebudayaan.Apakah agama itu kebudayaan? Jawaban pertanyaan ini telahmenimbulkan berbagai perdebatan, suatu pihak menyatakan bahwa agamabukan kebudayaan, Kelompok orang yang tidak setuju denganpandangan bahwa agama itu kebudayaan adalah pemikiran bahwa agamaitu bukan berasal dari manusia, tetapi datang dari Tuhan, dan sesuatu yangdatang dari Tuhan tentu tidak dapat disebut kebudayaan. Kemudian sementara orang yang menyatakan bahwa agama adalah kebudayaan,karena praktik agama tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan. Memangbenar bahwa wahyu yang menjadi sandaran fundamental agama itu datangdari Tuhan, akan tetapi realisasinya dalam kehidupan adalah persoalanmanusia, dan sepenuhnya tergantung pada kapasitas diri manusia sendiri,baik dalam hal kesanggupan “pemikiran intelektual” untuk memahaminya,maupun kesanggupan dirinya untuk menjalankannya dalam kehidupan.Maka dalam soal ini, menurut pandangan ini realisasi dan aktualisasi agamasesungguhnya telah memasuki wilayah kebudayaan, sehingga “agama mautidak mau menjadi soal kebudayaan”.

Para sarjana-sarjana, terutama sarjana Barat dan sebagian sarjana danbudayawan Indonesia tidak pilih-pilih dan menyamaratakan begitu sajasemua agama sebagai bagian dari kebudayaan. Para sarjana tersebut,terutama sarjana Barat nampaknya melihat agama yang banyak danberaneka-ragam di dunia ini sebagai hal yang sama dan pada dasarnyasama. Dalam pemikiran mereka menyimpan suatu perasaan bahwa semuaagama itu pada dasarnya adalah sama dan merupakan “fenomena ataugejala sosial” yang dapat ditemukan pada tiap-tiap kelompok manusia.Menurut mereka, dalam kehidupan manusia terdapat aspek umum yangbernama agama.Genus agama itu mengandung “species” yang bermacammacam,diantaranya adalah agama Islam.Sebenarnya, apabila ditarik garis batas antara agama dan kebudayaanitu adalah “garis batas Tuhan dan manusia” , maka wilayah agama danwilayah kebudayaan itu pada dasarnya tidak “statis”, tetapi “dinamis”, sebabTuhan dan manusia berhubungan secara dialogis, di mana manusia menjadi“khalifah” [wakil]-Nya di bumi. Maka pada tahapan ini, adakalanya antara“agama” dan “kebudayaan” menempatii wilayah sendiri-sendiri, danadakalanya keduanya berada dalam wilayah yang sama, yaitu yang disebutdengan “wilayah kebudayaan agama”.Agama sesungguhnya untukmanusia, dan keberadaan agama dalampraktik hidup sepenuhnya berdasar padakapasitas diri manusia, bukan sebaliknyamanusia untuk agama.Oleh karena itu,agama untuk manusia, maka agama padahakekatnya menerima adanya pluralitasdalam memahami dan menjalankanajarannya. Jikaagama untuk manusia, maka agamasesungguhnya telah memasuki wilayahkebudayaan dan menyejarah menjadikebudayaan dan sejarah agama adalahsejarah kebudayaan agama yang menggambarkan dan menerangkanbagaimana terjadi proses pemikiran, pemahaman dan isi kesadaran manusiatentang wahyu, doktrin dan ajaran agama, yang kemudian dipraktikkan dalamrealitas kehidupan manusia dan dalam sejarah perkembangan agama itu,sehingga “agama yang menyejarah telah sepenuhnya menjadi wilayahkebudayaan, karena tanpa menjadi kebudayaan, maka sesungguhnyasejarah agama-agama itu tidak akan pernah ada dan tidak akan pernahdituliskan”.

Di kalangan sarjana Barat, penganjur kelompok ini adalah EmileDurkheim [1859-1917], seorang sarjana Perancis, yang agaknya ikutmempengaruhi pemikiran sebagian sarjana Indonesia.Salah seorang sarjanaIndonesia Koentjaraningrat, yang menurut pengakuannya sendiri telahterpengaruh oleh konsep Emil Durkheim.Dengan menggunakan istilah“religie” dan bukan “agama” [karena menurut beliau lebih netral],Koentjaraningrat berpendapat bahwa religie merupakan bagian darikebudayaan. Pendirian Koentjaraningrat ini didasarkan kepada konsepDurkheim mengenai dasar-dasar religi yang mengatakan bahwa tiap-tiaprelegi merupakan suatu sistem yang terdiri dari empat komponen, yaitu:

  1. Emosi keagamaan yang menyebabkan manusia menjadi religius.
  2. Sistemkepercayaan yang mengandung keyakinan serta bayangan-bayangan

manusia tentang sifat-sifat Tuhan, serta tentang wujud dari alam gaib.

  1. Sistem upacara religius yang bertujuan mencari hubungan manusia dengan

Tuhan, dewa-dewa atau makhluk-makhluk halus yang mendiami alam gaib.

  1. Kelompok-kelompok religius atau kesatuan-kesatuan sosial yang

menganut sistem kepercayaan tersebut.

Koentjaraningrat, menyimpulkan bahwa “komponen system kepercayaan, sistem upacara dan kelompok-kelompok religius yangmenganut sistem kepercayaan dan menjalankan upacara-upacara religius,jelas merupakan ciptaan dan hasil akan manusia. Adapun komponen

pertama, yaitu emosi keagamaan, digetarkan oleh cahaya Tuhan. Relegisebagai suatu sistem merupakan bagian dari kebudayaan tetapi cahayaTuhan yang mewarnainya dan membuatnya keramat tentunya bukan bagiandari kebudayaan.Pendirian Koentjaraningrat di atas tercermin dalam teori culturaluniversalsnya, di mana beliau memasukkan religi sebagai isi [bagian] dari

kebudayaan, yaitu:

  1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia [pakaian,

perumahan, alat-alat rumahtangga, senjata, alat-alat produksi, alat transport,

dan lain sebagainya].

  1. Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi

[pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi, dan lain

sebagainya].

  1. Sistem kemasyarakatan [sistem kekerabatan, organisasi

politik, sistem hukum, sistem perkawinan].

  1. Bahasa [lisan maupun tertulis].
  2. Keseniaan [seni rupa, seni suara, seni gerak, dan lain sebagainya].
  3. Ilmu pengetahuan.
  4. Relige.

Muhammad Hatta, mengatakan bahwa agama merupakan bagian darikebudayaan: “Kebudayaan adalah ciptaan hidup daripada suatu bangsa.Kebudayaan banyak sekali macamnya.Menjadi pertanyaan apakah agamaitu suatu ciptaan manusia atau tidak.Keduanya bagi saya bukan soal.Agamaadalah juga suatu kebudayaan, karena dengan beragama manusia dapathidup dengan senang.Karenanya saya katakana agama adalah suatu bagiandaripada kebudayaan.Pada pandangan lain tentang kitab suci, jika kitab suci dibicarakan dandipahami sebagai wahyu dari Tuhan yang diturunkan kepada seorang nabi,maka sesungguhnya harus ada batas-batas yang dapat diterangkan secarajelas, kapan wahyu itu sebagai wahyu yang datang dari Tuhan dansepenuhnya bersandar kepada Tuhan, dan kapan wahyu itu kemudiandituliskan, diajarkan dan dijelaskan oleh seorang nabi kepada umatnya, yangsepenuhnya bersandar pada realitasnya sebagai seorang nabi, karenabagaimana pun ,seorang nabi itu sesungguhnya manusia juga [al-Qur’an,18:110].Jadi pada saat wahyu itu disampaikan kepada seorang nabi, makawahyu itu masih bersandar kepada Tuhan, akan tetapi setelah wahyu itudituliskan dalam dereta huruf dan susunan kalimat, diajarkan, dijelaskan dankemudian dipraktikkan dalam kehidupan, maka wahyu dengan segala isi danajarannya itu “telah menyejarah, dan kerananya telah memasuki wilayahkebudayaan”. Oleh karena itu, kebenaran wahyu sebagai ayat-ayat Tuhan,yang “bersifat mutlak dan tunggal”, hanya dapat ada dan berada secarainternal dan telah terkandung dalam kitab suci itu sendiri.Akan tetapi ketikawahyu itu dituliskan, dipahami dan diajarkan serta dipraktikkan dalamkehidupan bersama, maka kebenaran pemehaman, pemikiran dan praktikhidup menjalankan ajaran yang terkandung dalam wahyu itu tidaklah bersifatmutlak, dan di dalamnya terdapat adanya pluralitas, perubahan danpenggeseran.Pasa sisi lain, ada pandangan yang menyatakan bahwa pandanganpara sarjana tersebut telah “terperangkap” dan “terjebak” ke dalam“generalisasi”, semacam pencampuradukan semua agama sebagai bagiandari kebudayaan [termasuk kepercayaan, moral dan hukum yang bersumberdari agama-agama].

  1. HUBUNGAN MASYARAKAT DENGAN KEBUDAYAAN

Telah kita ketahui Indonesia memiliki banyak sekali budaya dan adat istiadat yang juga berhubungan dengan masyarakat dan agama. Dari berbagai budaya yang ada di Indonesia dapat dikaitkan hubungannya dengan agama dan masyarakat dalam melestraikan budaya.Sebagai contoh budaya Ngaben yang merupakan upacara kematian bagi umat hindu Bali yang sampai sekarang masih terjaga kelestariannya.Hal ini membuktikan bahwa agama mempunyai hubungan yang erat dengan budaya sebagai patokan utama dari masyarakat untuk selalu menjalankan perintah agama dan melestarikan kebudayaannya.Selain itu masyarakat juga turut mempunyai andil yang besar dalam melestarikan budaya, karena masyarakatlah yang menjalankan semua perintah agama dan ikut menjaga budaya agar tetap terpelihara. Selain itu ada juga hubungan lainnya,yaitu menjaga tatanan kehidupan.Maksudnya hubungan agama dalam kehidupan jika dipadukan dengan budaya dan masyarakat akan membentuk kehidupan yang harmonis,karena ketiganya mempunyai keterkaitan yang erat satu sama lain.

Sebagai contoh jika kita rajin beribadah dengan baik dan taat dengan peraturan yang ada,hati dan pikiran kita pasti akan tenang dan dengan itu kita dapat membuat keadaan menjadi lebih baik seperti memelihara dan menjaga budaya kita agar tidak diakui oleh negara lain. Namun sekarang ini agamanya hanyalah sebagi symbol seseorang saja.Dalam artian seseorang hanya memeluk agama, namun tidak menjalankan segala perintah agama tersebut.Dan di Indonesia mulai banyak kepercayaan-kepercayaan baru yang datang dan mulai mengajak/mendoktrin masyarakat Indonesia agar memeluk agama tersebut.Dari banyaknya kepercayaan-kepercayaan baru yang ada di Indonesia, diharapkan pemerintah mampu menanggulangi masalah tersebut agar masyarakat tidak tersesaat di jalannya.Dan di harapkan masyarakat Indonesia dapat hidup harmonis, tentram, dan damai antar pemeluk agama yang satu dengan lainnya.

  1. FAKTOR – FAKTOR PENYEBAB MASYARAKAT MENOLAK KEBUDAYAAN BARU
    1. a.      KurangnyaHubungan dengan Masyarakat Lain

Kehidupan terasing menyebabkan suatu masyarakat tidak mengetahui perkembangan-perkembangan yang telah terjadi. Hal ini menyebabkan pola-pola pemikiran dan kehidupan masyarakat menjadi statis.

  1. b.      Terlambatnya Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Kondisi ini dapat dikarenakan kehidupan masyarakat yang terasing dan tertutup, contohnya masyarakat pedalaman. Tapi mungkin juga karena masyarakat itu lama berada di bawah pengaruh masyarakat lain (terjajah).

  1. c.       Sikap Masyarakat yang Masih Sangat Tradisional

Sikap yang mengagung-agungkan tradisi dan masa lampau dapat membuat terlena dan sulit menerima kemajuan dan perubahan zaman. Lebih parah lagi jika masyarakat yang bersangkutan didominasi oleh golongan konservatif (kolot).

  1. Rasa Takut Terjadinya Kegoyahan pada Integritas Kebudayaan
    Integrasi kebudayaan seringkali berjalan tidak sempurna, kondisi seperti ini dikhawatirkan akan menggoyahkan pola kehidupan atau kebudayaan yang telah ada. Beberapa golongan masyarakat berupaya menghindari risiko ini dan tetap mempertahankan diri pada pola kehidupan atau kebudayaan yang telah ada.
  2. e.       Adanya Kepentingan-Kepentingan yang Telah Tertanam dengan Kuat ( Vested Interest Interest)

Organisasi sosial yang mengenal sistem lapisan strata akan menghambat terjadinya perubahan. Golongan masyarakat yang mempunyai kedudukan lebih tinggi tentunya akan mempertahankan statusnya tersebut. Kondisi inilah yang menyebabkan terhambatnya proses perubahan.

  1. f.       Adanya Sikap Tertutup dan Prasangka Terhadap Hal Baru (Asing)

Sikap yang demikian banyak dijumpai dalam masyarakat yang pernah dijajah oleh bangsa lain, misalnya oleh bangsa Barat. Mereka mencurigai semua hal yang berasal dari Barat karena belum bisa melupakan pengalaman pahit selama masa penjajahan, sehingga mereka cenderung menutup diri dari pengaruh-pengaruh asing.

  1. g.      Hambatan-Hambatan yang Bersifat Ideologis

Setiap usaha perubahan pada unsur-unsur kebudayaan rohaniah, biasanya diartikan sebagai usaha yang berlawanan dengan ideologi
masyarakat yang sudah menjadi dasar integrasi masyarakat tersebut.

  1. h.      Adat atau Kebiasaan yang Telah Mengakar

Adat atau kebiasaan merupakan pola-pola perilaku bagi anggota masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Adakalanya adat dan kebiasaan begitu kuatnya sehingga sulit untuk diubah. Hal ini merupakan bentuk halangan terhadap perkembangan dan perubahan kebudayaan. Misalnya, memotong padi dengan mesin dapat mempercepat proses pemanenan, namun karena adat dan kebiasaan masyarakat masih banyak yang menggunakan sabit atau ani-ani, maka mesin pemotong padi tidak akan digunakan.

  1. i.        Nilai Bahwa Hidup ini pada Hakikatnya

Buruk dan Tidak Mungkin Diperbaiki Pandangan tersebut adalah pandangan pesimistis. Masyarakat cenderung menerima kehidupan apa adanya dengan dalih suatu kehidupan telah diatur oleh Yang Mahakuasa. Pola pikir semacam ini tentu saja tidak akan memacu pekembangan kehidupan manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Faisal Ismail, 1998, Paradigma Kebudayaan Islam, Studi Kritis dan Refleksi Historis, Tiara Ilahi Press, Yogyakarta.

Musa Asy’ari, 1999, Filsafat Islam Tentang Kebudayaan, LESFI, Yogyakarta

Ahmad Abdullah al-Masdoosi, 1962, Living Religions of the World: a Sociopolitical

Study, English Renderring by Zavar Ishaq Ansari [Karachi: Begum

Aisha Bawany Wakf.

Koentjaraningrat, 1964, Pengantar Antropologi, UI, Jakarta.

Sidi Gazalba, 1976, Sistematika Filsafat [buku I], Bulan Bintang, Jakarta.

Y.B. Sariyanto Siswosoebroto, 1978, “Kebatinan dan Agama Kristen” dalam

harian Masa Kni [No.247 tahun XII, 8 Februari 1978].

Endang Saifuddin Anshari, 1980, Agama dan Kebudayaan, Cet. Ke-1, Bina

Ilmu, Surabaya.

http://www.crayonpedia.org/mw/BAB_5._PERUBAHAN_SOSIAL_DALAM_MASYARAKAT


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: