Dunia Matematika

Selamat Datang di Blog Citra

PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN METODE PEMBELAJARAN ARIAS

on January 12, 2012

BAB I

PENDAHULUAN

 A.      Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang membangun. Salah satu faktor yang menunjang keberhasilan suatu pembangunan adalah bidang pendidikan. Karena pada hakekatnya pendidikan merupakan proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan dirinya agar dapat menghadapi segala perubahan dan permasalahan yang terjadi. Pendidikan di Indonesia dalam pelaksanaannya menganut asas pendidikan seumur hidup yang dilaksanakan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keberhasilan pembelajaran bukan hanya tanggung jawab lembaga pendidikan formal melainkan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Pemerintah berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui perbaikan-perbaikan dari sarana sampai prasarana pendidikan.

Masalah yang dihadapi sekarang ini adalah bagaimanakah strategi yang dilakukan untuk memperbaiki pendidikan. Di samping memperbaiki sistem melalui pembaharuan kurikulum, pemerintah juga mengupayakan perbaikan dari segi operasionalnya, yaitu dengan perubahan sarana dan prasarana pendidikan, meningkatkan kualitas guru dan petugas-petugas pendidikan yang lain melalui penataran-penataran. Dalam peningkatan kualitas guru, pemerintah mengupayakan untuk menciptakan guru-guru yang peka dan mampu memecahkan permasalahan yang menghambat dalam pendidikan nasional.

Permasalahan pada guru dihadapkan pada permasalahan yang berhubungan dengan proses pembelajaran. Guru harus mampu mengatasi kendala-kendala yang muncul secara langsung yang berhubungan dengan pelajaran, proses pembelajaran di kelas dan peserta didik. Sering dijumpai siswa yang memiliki intelegensi yang tinggi tetapi prestasi belajar yang dicapinya rendah akibat kemampuan intelektual yang dimiliki siswa tidak atau kurang berfungsi secara optimal. Salah satu faktor pendukung agar kemampuan intelektual yang dimiliki siswa dapat berfungsi secara optimal adalah adanya sikap mental dan emosi yang dapat dilihat dari motivasi siswa untuk berprestasi yang tinggi dalam diri siswa. Untuk itu, keterkaitan dengan peningkatan prestasi belajar pada pembelajaran matematika dalam penggunaaan model pembelajaran harus mampu menekankan sikap mental dan emosi pada diri siswa.

Matematika oleh banyak siswa dianggap pelajaran yang sulit, disamping memerlukan penalaran juga diperlukan pemahaman untuk memecahkan suatu masalah-masalah yang berhubungan dengan matematika. Ditambah lagi jika hal tersebut berhubungan dengan masalah sikap mental dan emosi pada siswa. Untuk mengatasi hal tersebut, seorang guru harus mempunyai strategi dalam mengajar agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien dalam mencapai prestasi yang maksimal. Oleh karena itu, guru matematika juga harus menguasai berbagai macam model pembelajaran.

Model pembelajaran merupakan cara dalam penyampaian tujuan pembelajaran yang memrlukan teknik-teknik khusus. Hal ini harus dikuasai oleh seorang guru, terutama guru matematika. Selain model pembelajaran dapat mengarahkan kegiatan belajar mengajar terhadap tata cara pembelajaran, juga mampu merangsang motivasi siswa untuk belajar, mempunyai minat yang besar terhadap pembelajaran, sehingga dengan itu semua siswa dengan siswa lainnya mampu berkompetensi dalam prestasi. Suatu model yang mengarah ke dalam pengembangan sikap mental dan emosi siswa adalah model pembelajaran ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, Satisfaction) .

Untuk menyampaikan suatu pelajaran kepada siswa, guru perlu memilih model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan dan karakteristik pelajaran tersebut. Dengan penggunaan model pembelajaran yang tepat maka materi pelajaran yang disampaikan dapat dengan mudah dimengerti oleh siswa dan dharapkan terjadi proses belajar mengajar yang optimal. Sebagai salah satu alternatif model yang sekiranya dapat digunakan adalah model pembelajaran ARIAS.

Model pembelajaran ARIAS merupakan model pembelajaran yang dapat mengarah untuk menanamkan rasa percaya diri dan bangga kepada siswa, membangkitkan minat atau perhatian serta memberi kesempatan kepada mereka untuk mengadakan evaluasi diri. Model pembelajaran ini adalah model pembelajaran yang dirancang dan dapat digunakan oleh guru untuk mempengaruhi motivasi berprestasi dan prestasi belajar siswa. Dalam model ARIAS dituntut kreativitas guru dalam memilih cara mengajar untuk dapat membantu siswa lebih tertarik (interest) terhadap materi pelajaran.

 B.       Rumusan Masalah

  1. Bagaimana pengaruh model pembelajaran ARIAS terhadap motivasi berprestasi dan hasil belajar siswa ?
  2. Adakah peningkatan motivasi berprestasi siswa melalui pembelajaran matematika dengan model pembelajaran ARIAS ?
  3. Adakah peningkatan prestasi belajar matematika siswa melalui pembelajaran dengan model pembelajaran ARIAS ?

 C.      Tujuan

  1. Untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran ARIAS terhadap motivasi berprestasi dan hasil belajar siswa.
  2. Untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa melalui pembelajaran matematika dengan model pembelajaran ARIAS.
  3. Untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa melalui pembelajaran dengan model pembelajaran ARIAS.

 D.      Manfaat

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan, informasi untuk memperkaya khasanah pengetahuan dan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan langkah kebijakan yang lebih baik dan tepat di masa mendatang dalam peningkatan mutu pendidikan matematika. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan kepada dunia pendidikan untuk dapat meningkatkan motivasi berprestasi siswa. Motivasi dapat dijadikan pendorong bagi siswa untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.

2. Manfaat Praktis

  1. Bagi siswa, hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu siswa agar lebih termotivasi untuk memperoleh prestasi belajar yang lebih baik.
  2. Bagi guru, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan dan dasar pemikiran guru dan calon guru untuk dapat memilih model pembelajaran yang tepat dalam kegiatan belajar mengajar.
  3. Bagi peneliti, hasil penelitian ini dapat menjadi bekal untuk terjun langsung ke dunia pendidikan sebagai seorang calon pendidik.
  4. Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi sebagai acuan penelitian berikutnya.

 E.       Definisi Istilah

Motivasi belajar matematika adalah sesuatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan yang berhubungan kebutuhan untuk maju berilmu pengetahuan matematika.

 BAB II

LANDASAN TEORI

 

A.    Kajian Teori

Motivasi dan Hasil Belajar Matematika

a.    Hakekat Matematika

            Matematika merupakan disiplin ilmu yang mempunyai sifat belajar khas, jika dibandingkan dengan ilmu yang lain. Kegiatan belajar mengajar matematika seyogyanya tidak disamakan begitu saja dengan ilmu yang lain, karena setiap siswa yang belajar matematika itupun berbeda-beda pula kemampuannya. Maka kegiatan belajar mengajar matematika haruslah di atur sekaligus memperhatikan kemampuan siswa.

            Pengertian matematika menurut Ruseffendi (dalam Endyah Murniati, 2008: 46) adalah matematika itu terorganisasikan dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan, definisi-definisi, aksioma-aksioma, dan dalil-dalil, dimana dalil-dalil setelah dibuktikan kebenarannya berlaku secara umum, karena itulah matematika sering disebut ilmu deduktif.

            Menurut Johnson dan Rising (dalam Endyah Murniati, 2008: 46) menyatakan bahwa matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan pembuktian yang logik : matematika itu adalah bahasa, bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai arti dari pada bunyi; matematika adalah ilmu tentang pola keteraturan pola atau ide, dan matematika itu adalah suatu seni, keindahannya terdapat pada keterurutan dan keharmonisan. Menurut Reys (dalam Endyah Murniati, 2008: 46) mengatakan bahwa matematika adalah telaah tentang pola dan hubungan, suatu jalan atau pola berpikir, suatu seni, suatu bahasa dan suatu alat. Sedangkan menurut Kline (dalam Endyah Murniati, 2008: 46) bahwa matematika itu bukan pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi beradanya itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi dan alam.

Menurut Cornelius dalam Mulyono Abdurrahman (2003: 253) mengemukakan perlunya matematika diberikan kepada siswa karena matematika merupakan : (a) sarana berfikir yang jelas dan logis, (b) sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari, (c) sarana mengenal pola-pola hubungan dan generalisasi pengalaman,  (d) sarana untuk mengembangkan kreatifitas, (e) sarana untuk meningkatkan kesadaran terhadap perkembangan budaya.

            Berdasarkan pernyataan dari para ahli matematika di atas dapat disimpulkan bahwa matematika adalah ilmu deduktif dan universal yang mengkaji benda abstrak disusun dengan menggunakan bahasa simbol untuk mengekspresikan hubungan kuantitatif dan keruangan yang mendasari perkembangan teknologi modern dan memajukan daya pikir manusia, serta berguna untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

 b.   Hakekat Motivasi

Menurut Siagian (2004 : 137) menyatakan bahwa motivasi merupakan akibat dari interaksi seseorang dengan situasi tertentu yang dihadapinya. Karena itulah terdapat perbedaan dalam kekuatan motivasi antara seorang dengan orang lain.

Menurut Sardiman (2001 : 100) motivasi belajar adalah “Keseluruhan daya penggerak pada diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai”. Adapun ciri seseorang yang mempunyai motivasi belajar yang tinggi antara lain tekun menghadapi tugas, ulet menghadapi kesulitan, menunjukkan minat belajar dan cepat bosan pada tugas – tugas yang rutin.

Dalam kaitannya dengan aktivitas belajar, guru harus dapat mengembangkan motivasi belajar dalam setiap kegiatan berinteraksi dengan siswanya. Menurut Djamarah (2002 : 199) seseorang yang berminat untuk belajar belum sampai pada tataran motivasi belum menunjukkan aktivitas nyata. Bila seseorang sudah termotivasi untuk belajar, maka dia akan melakukan aktivitas belajar dalam rentangan waktu tertentu.

Berdasarkan pernyataan dari para ahli matematika di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang kedalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan yang berhubungan kebutuhan untuk maju, berilmu pengetahuan.

 c.    Konsep Hasil Belajar Matematika

Hasil belajar menurut Dimyati dalam Ranti (2007: 12) dalam http://one.indoskripsi.com adalah hasil proses belajar di mana pelaku aktif dalam belajar adalah siswa dan pelaku aktif dalam pembelajaran adalah guru. Menurut Nana Sudjana ( 2005 : 3 ) hasil belajar adalah perubahan tingkah laku siswa setelah melalui proses pembelajaran. Semua perubahan dari proses belajar merupakan suatu hasil belajar dan mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan Hasil belajar adalah hasil yang dicapai oleh seorang siswa setelah melakukan suatu usaha untuk memenuhi kebutuhannya. Usaha tersebut dipengaruhi kondisi dan situasi tertentu, yaitu pendidikan dan latihan dalam suatu jenjang pendidikan. Pengukuran prestasi belajar dapat dilakukan dengan tes dan evaluasi. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa. Untuk melakukan evaluasi diperlukan adanya evaluasi yang objektif, menyeluruh dan berkesinambungan.

Dalam sistem pendidikan nasional rumuskan pendidikan, baik tujuan kurikulum maupun tujuan instrasional menggunakan klasifikasi hasil belajar dan Benjamin Bloom yang ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotoris (Nana Sudjana, 2005: 22).

1)        Aspek Kognitif

Evaluasi aspek kognitif, mengukur pemahaman konsep yang terkait dengan percobaan yang dilakukan untuk aspek pengetahuan evaluasi dapat dilakukan melalui tes tertulis yang relevan dengan materi pokok tersebut.

Aspek kognitif dapat berupa pengetahuan dan keterampilan intelektual yang meliputi: pengamatan, pemahaman, aplikasi, analisis, dan evaluasi. Klasifikasi tujuan kognitif oleh Bloom (1956) domain kognitif terdiri atas enam bagian sebagai berikut:

a)      Ingatan/recall

Mengacu kepada kemampuan mengenal atau mengingat materi yang sudah dipelajari dari yang sederhana sampai pada teori-teori yang sukar. Yang penting adalah kemampuan mengingat keterangan dengan benar.

b)      Pemahaman

Mengacu kepada kemampuan memahami makna materi. Aspek ini satu tingkat di atas pengetahuan dan merupakan tingkat berfikir yang rendah.

c)      Penerapan

Mengacu kepada kemampuan menggunakan atau menerapkan materi yang sudah dipelajari pada situasi yang baru dan menyangkut penggunaan aturan, prinsip. Penerapan merupakan tingkat kemampuan berpikir yang lebih tinggi dari pada pemahaman.

d)     Analisis

Mengacu kepada kemampuan menguraikan materi ke dalam komponen-komponen atau faktor penyebab dan mampu memahami hubungan di antara bagian yang satu dengan yang lainnya, sehingga struktur dan aturannya dapat lebih dimengerti. Analisis merupakan tingkat kemampuan berpikir yang lebih tinggi daripada aspek pemahaman maupun penerapan.

e)      Sintesis

Mengacu kepada kemampuan memadukan konsep atau komponen-komponen, sehingga membentuk suatu pola struktur dan bentuk baru. Aspek ini memerlukan tingkah laku yang kreatif. Sintesis merupakan kemampuan tingkat berfikir yang lebih tinggi daripada kemampuan sebelumnya.

f)       Evaluasi

Mengacu pada kemampuan memberikan pertimbangan terhadap nilai-nilai materi untuk tujuan tertentu. Evaluasi merupakan tingkat kemampuan berpikir yang tinggi.

2)      Aspek Afektif

Evaluasi aspek afektif berkaitan dengan perasaan, emosi, sikap, derajat penerimaan atau penolakan terhadap suatu objek. Evaluasi aspek afektif dalam hal ini digunakan untuk penilaian kecakapan hidup meliputi kesadaran diri, kecakapan berpikir rasional, kecakapan sosial, dan kecakapan akademis. Aspek ini belum ada patokan yang pasti dalam penilaiannya.

Klasifikasi tujuan afektif terbagi dalam lima kategori sebagai berikut:

a)      Penerimaan

Mengacu pada kesukarelaan dan kemampuanm m dan memberikan respon terhadap stimulasi yang tepat. Penerimaan merupakan tingkat hasil belajar terendah dalam domain afektif.

b)      Pemberian respon

Satu tingkat di atas penerimaan. Dalam hal ini siswa menjadi tersangkut secara aktif, menjadi peserta, dan tertarik.

c)      Penilaian

Mengacu pada nilai atau pentingnya kita menterikatkan diri pada objek atau kejadian tertentu dengan reaksi-reaksi seperti menerima, menolak, atau tidak menghiraukan. Tujuan-tujuan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi ‘sikap’ dan ‘apresiasi’.

d)     Pengorganisasian

Mengacu kepada penyatuan nilai. Sikap-sikap yang berbeda yang membuat lebih konsisten dapat menimbulkan konflik-konflik internal membentuk suatu sistem nilai internal, mencakup tingkah laku yang tercermin dalam falsafah hidup.

e)      Karakterisasi

Mengacu pada karakter dan gaya hidup seseorang. Nilai-nilai sangat berkembang dengan teratur sehingga, tingkah laku menjadi lebih konsisten dan lebih mudah diperkirakan. Tujuan dalam kategori ini bisa ada hubungannya dengan ketentuan pribadi, sosial, dan emosi siswa.

3)      Aspek Psikomotor

Pengukuran keberhasilan pada aspek psikomotor ditunjukkan pada keterampilan dalam merangkai alat keterampilan kerja dan ketelitian dalam mendapatkan hasil. Evaluasi dari aspek keterampilan yang dimiliki oleh siswa bertujuan untuk mengukur sejauh mana siswa menguasai teknik praktikum. Aspek ini menitikberatkan pada unjuk kerja siswa.

Klasifikasi tujuan psikomotor terbagi dalam lima kategori sebagai berikut:

a)      Peniruan

Terjadi ketika siswa mengamati suatu gerakan. Mulai memberikan respons serupa dengan yang diamati. Mengurangi koordinasi dan kontrol otot-otot syaraf. Peniruan ini pada umumnya dalam bentuk global dan tidak sempurna.

b)      Manipulasi

Menekankan perkembangan kemampuan mengikuti pengarahan, penampilan, gerakan-gerakan pilihan yang menetapkan suatu penampilan melalui latihan. Pada tingkat ini siswa menampilkan sesuatu menurut petunjuk-petunjuk tidak hanya meniru tingkah laku saja.

c)      Ketetapan

Memerlukan kecermatan, proporsi, dan kepastian yang lebih tinggi dalam penampilan. Respons-respons lebih terkoreksi dan kesalahan-kesalahan dibatasi sampai pada tingkat minimum.

d)     Artikulasi

Menekankan koordinasi suatu rangkaian gerakan dengan membuat urutan yang tepat dengan mencapai yang diharapkan atau konsistensi internal diantara gerakan-gerakan yang berbeda.

e)      Pengalamiahan

Menuntut tingkah laku yang ditampilkan dengan paling sedikit mengeluarkan energi fisik maupun psikis. Gerakannya dilakukan secara rutin. Pengalamiahan merupakan tingkat kemampuan tertinggi dalam domain psikomotorik.

Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Di antara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang banyak dinilai oleh para guru di sekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran.

 Model Pembelajaran ARIAS

a.    Hakekat Model Pembelajaran

Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, computer, kurikulum, dan lain-lain ( Joyce dalam Trianto, 2007: 5)

Istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada strategi, metode, atau prosedur. Model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi, metode, atau prosedur. Ciri-ciri tersebut ialah :

1)         Rasional teoritik logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya;

2)         Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai);

3)         Tingkah laku pengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil; dan

4)         Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.

 b.   Model Pembelajaran ARIAS

Model pembelajaran ARIAS merupakan modifikasi dari model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, Satisfaction). Menurut Keller (Sopah, 2001) model ARCS merupakan model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan teori nilai harapan (expectancy value theory) yang mengandung dua komponen yaitu nilai (value) dari tujuan yang akan dicapai dan harapan (expectancy) agar berhasil mencapai tujuan itu. Dari dua komponen tersebut oleh Keller dikembangkan menjadi empat komponen. Keempat komponen model pembelajaran itu adalah attention, relevance, confidence dan satisfaction dengan akronim ARCS. Model pembelajaran ini dikembangkan atas dasar teori–teori belajar dan pengalaman nyata para instruktur ( Sopah, 2001). Namun demikian, pada model pembelajaran ini tidak ada assessment (penilaian), padahal penilaian merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan pembelajaran. Penilaian yang dilaksanakan tidak hanya pada akhir kegiatan pembelajaran tetapi perlu dilaksanakan selama proses kegiatan berlangsung.

Menurut De Cecco (Sopah, 2001) penilaian dilaksanakan untuk mengetahui sampai sejauh mana kemajuan yang dicapai atau hasil belajar yang diperoleh siswa. Mengingat pentingnya penilaian, maka oleh Keller dan Kopp pula model pembelajaran ini dimodifikasi lagi dengan menambahkan komponen assessment pada model pembelajaran tersebut ( Sopah, 2001).

        Dengan modifikasi tersebut, model pembelajaran yang digunakan mengandung lima komponen yaitu : attention (minat atau perhatian), relevance (relevansi), confidence (percaya diri), satisfaction (kepuasan atau bangga) dan assessment (evaluasi atau penilaian). Modifikasi yang dilakukan dengan penggantian nama confidence menjadi anssurance dan attention menjadi interest.

        Menurut Morist (dalam Sopah, 2001) penggatian nama confidence (percaya diri) menjadi anssurance karena kata confidence sinonim dengan kata self – confidence. Dalam kegiatan pembelajaran guru tidak hanya percaya bahwa siswa akan mampu dan berhasil, melainkan juga sangat penting menanamkan rasa percaya diri siswa bahwa mereka merasa mampu dan dapat berhasil. Demikian juga penggatian kata attention menjadi interest karena ada kata interest (minat) sudah terkandung pengertian attention (perhatian). Dengan kata interest tidak hanya sekedar menarik minat atau perhatian siswa pada awal kegiatan melainkan tetap memelihara minat atau perhatian tersebut selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Untuk memperoleh akronim yang lebih bermakna maka urutannya pun dimodifikasi menjadi assurance, relevance, interest, assessment dan satisfaction (ARIAS).

Komponen Model Pembelajaran ARIAS

Pada model pembelajaran ARIAS ada lima komponen yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran, yaitu assurance, relevance, interest, assessment dan satisfaction yang disusun berdasarkan teori belajar. Kelima komponen tersebut adalah :

1. Assurance ( percaya atau yakin)

Prayitno (Kiranawati, 2007) mengemukakan bahwa ” siswa memiliki sikap percaya diri memiliki penilaian positif tentang dirinya yang cenderung menampilkan prestasi-prestasi yang baik secara terus menerus”. Sikap penuh percaya diri, yakin dan merasa mampu dapat melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya sehingga dapat mencapai hasil yang lebih baik dari sebelumnya atau dapat melebihi orang lain.

2. Relevance (relevansi)

Relevance yaitu berhubungan dengan kehidupan siswa baik berupa pengalaman sekarang atau yang telah dimiliki maupun yang berhubungan dengan kebutuhan karir sekarang atau yang akan datang (Keller, 1987 : 2 – 9). Sehingga siswa merasa kegiatan pembelajaran yang mereka ikuti memiliki nilai, bermanfaat dan berguna bagi kehidupannya. Siswa akan terdorong mempelajari sesuatu kalau apa yang akan dipelajari ada relevansinya dengan kehidupanya dan memiliki tujuan yang jelas.

3. Interest (perhatian atau minat)

Interest yaitu yang berhubungan dengan minat atau perhatian siswa. Sopah (2001) menyatakan bahwa dalam kegiatan pembelajaran minat atau perhatian tidak hanya dibangkitkan melainkan juga dipelihara selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu guru harus memperhatikan berbagai bentuk dan memfokuskan pada minat atau perhatian dalam kegiatan pembelajaran.

4. Assesment (penilaian)

Assesment berhubungan dengan evaluasi terhadap siswa. Stufflebeam (Daryanto, 2001 : 1) mengemukakan bahwa evaluasi adalah proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan.

Antara assesment dan evaluasi saling berhubungan yaitu keduanya merupakan penilaian. Tujuan utama melakukan evaluasi dalam proses belajar-mengajar adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan intruksional oleh siswa sehingga dapat diupayakan tindak lanjutnya.

Evaluasi tidak hanya dilakukan oleh guru tetapi juga oleh siswa untuk mengevaluasi diri mereka sendiri atau evaluasi diri. Evaluasi diri dilakukan oleh siswa untuk berusaha lebih baik lagi dari sebelumnya agar mencapai hasil yang maksimal. Dengan demikian, evaluasi diri dapat mendorong siswa untuk meningkatkan apa yang ingin mereka capai.

5. Satisfaction ( kepuasan )

Satisfaction yaitu berhubungan dengan rasa bangga dan puas atas hasil yang dicapai. Siswa yang telah berhasil mengerjakan atau mencapai sesuatu merasa bangga atau puas atas keberhasilannya. Keberhasilan dan kebanggaan itu menjadi penguat bagi siswa untuk mencapai keberhasilan berikutnya. Kebanggaan dan kepuasan ini dapat timbul karena pengaruh dari luar individu yaitu dari orang lain atau lingkungan sekitarnya. Rasa bangga dan puas perlu ditanamkan dan dijaga dalam diri siswa. 

Karakteristik  Model Pembelajaran  ARIAS

Ada satu hal yang menjadi karakteristik utama dari model pembelajaran ARIAS , yakni proses pembelajaran didominasi oleh upaya memotivasi siswa agar tujuan pembelajaran tercapai. Motivasi dilakukan selama pembelajaran berlangsung baik berupa motivasi secara langsung maupun motivasi secara tidak langsung.

Kelima komponen pembentuk model pembelajaran ARIAS di atas secara umum menggambarkan motivasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Motivasi secara langsung meliputi   komponen assurance ( percaya atau yakin) , interest (perhatian atau  minat), dan satisfaction ( kepuasan ),  dan motivasi secara tidak langsung meliputi komponen relevance (relevansi) dan assesment (penilaian), 

 c.    Penerapan Model Pembelajaran ARIAS

          Penggunaan model pembelajaran ARIAS perlu dilakukan sejak awal, sebelum guru melakukan kegiatan pembelajaran di kelas. Model pembelajaran ini digunakan sejak guru atau perancang merancang kegiatan pembelajaran dalam bentuk satuan pelajaran misalnya. Satuan pelajaran sebagai pegangan (pedoman) guru kelas dan satuan pelajaran sebagai bahan/materi bagi siswa. Satuan pelajaran sebagai pegangan bagi guru disusun sedemikian rupa, sehingga satuan pelajaran tersebut sudah mengandung komponen-komponen ARIAS. Artinya, dalam satuan pelajaran itu sudah tergambarkan usaha/kegiatan yang akan dilakukan untuk menanamkan rasa percaya diri pada siswa, mengadakan kegiatan yang relevan, membangkitkan minat/perhatian siswa, melakukan evaluasi dan menumbuhkan rasa dihargai/bangga pada siswa. Guru atau pengembang sudah merancang urutan semua kegiatan yang akan dilakukan, strategi atau metode pembelajaran yang akan digunakan, media pembelajaran apa yang akan dipakai, perlengkapan apa yang dibutuhkan, dan bagaimana cara penilaian akan dilaksanakan. Meskipun demikian pelaksanaan kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan situasi, kondisi dan lingkungan siswa. Demikian juga halnya dengan satuan pelajaran sebagai bahan/materi untuk siswa. Bahan/materi tersebut harus disusun berdasarkan model pembelajaran ARIAS. Bahasa, kosa kata, kalimat, gambar atau ilustrasi, pada bahan/materi dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada siswa, bahwa mereka mampu, dan apa yang dipelajari ada relevansi dengan kehidupan mereka. Bentuk, susunan dan isi bahan/materi dapat membangkitkan minat/perhatian siswa, memberi kesempatan kepada siswa untuk mengadakan evaluasi diri dan siswa merasa dihargai yang dapat menimbulkan rasa bangga pada mereka. Guru dan/atau pengembang agar menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan dimengerti, kata-kata yang jelas dan kalimat yang sederhana tidak berbelit-belit sehingga maksudnya dapat dengan mudah ditangkap dan dicerna siswa. Bahan/materi agar dilengkapi dengan gambar yang jelas dan menarik dalam jumlah yang cukup. Gambar dapat menimbulkan berbagai macam khayalan/fantasi dan dapat membantu siswa lebih mudah memahami bahan/materi yang sedang dipelajari.
Siswa dapat membayangkan/mengkhayalkan apa saja, bahkan dapat membayangkan dirinya sebagai apa saja (McClelland, 1987: 29). Bahan/materi disusun sesuai urutan dan tahap kesukarannya perlu dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menimbulkan keingintahuan dan memungkinkan siswa dapat mengadakan evaluasi sendiri.

B.     Kajian Pustaka

C.    Kerangka Berpikir

Berdasarkan kajian teori yang telah diuraikan diatas dapat disusun suatu kerangka berpikir guna memperoleh jawaban sementara atas kesalahan yang timbul. Prosedur penelitian tindakan kelas ini merupakan siklus dan dilaksanakan sesuai perencanaan tindakan atau perbaikan dari perencanaan tindakan terdahulu. Tindakan kelas yang dilaksanakan berupa pengajaran dikelas secara sistematis dengan tindakan pengelolaan kelas dengan pendekatan pembelajaran yang tepat mengacu pada perencanaan tindakan yang telah tersusun sebelumnya. Dalam setiap tindakan, peneliti akan mengamati aktivitas belajar siswa pada setiap tindakan pengajaran yang dilakukan di depan kelas.

Pada kondisi awal siswa kelas IV SD Negeri Kratonan 03 Surakarta kurang mempunyai motivasi belajar matematika

 

D.    Hipotesis Tindakan

Berdasarkan hasil penelitian yang relevan dan kerangka pemikiran tersebut di atas maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan “Melalui model pembelajaran ARIAS dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar matematika bagi siswa kelas IV semester gasal SD Negeri Kratonan Surakarta tahun 2011/2012”.

 BAB III

METODE PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Penelitian dilakukan melalui proses kolaborasi atau kerja sama antara kepala sekolah, guru matematika dan peneliti pada lingkungan sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar matematika.

Peneliti akan bekerjasama dengan guru matematika dan kepala sekolah untuk mendiskusikan dan menetapkan tujuan penelitian. Permasalahan penelitian dan rencana tindakan yang telah dirancang. Peneliti akan mencatat apa saja yang benar-benar terjadi pada proses pembelajaran, yaitu kegiatan yang mempunyai pengaruh terhadap proses belajar siswa.

B.     Tempat dan Waktu Penelitian

1.      Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SD Negeri Kratonan 03 Surakarta. Lokasinya adalah di Jalan Madukoro No.22 Serengan, Surakarta. Peneliti mengadakan penelitian di SD Negeri Kratonan 03 Surakarta dengan pertimbangan bahwa sekolah ini belum pernah dilakukan penelitian dengan judul yang sama dengan peneliti.

2.      Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juli 2011 sampai dengan bulan November 2011 dengan jadwal sebagai berikut:

Tabel 1: Waktu dan Jenis Kegiatan Penelitian.

No

Jenis kegiatan

Bulan

Juli

Agustus

September

Oktober

November

1. Penyusunan dan pengajuan proposal X X X x x
2. Mengurus ijin penelitian x x
3. Persiapan X X
4. Pelaksanaan penelitian X x X X
5. Analisis data x x
6. Penyusunan laporan x

C.    Subyek Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti adalah guru matematika yang bertindak sebagai subyek yang memberi tindakan. Seluruh siswa kelas IV SD Negeri Kratonan 03 Surakarta tahun ajaran 2011/2012 sebagai subyek yang menerima tindakan. Peneliti dibantu mitra guru matematika sebagai observer.

D.      Data dan sumber data

1.        Data

Data adalah hasil pencatatan peneliti, baik yang berupa fakta maupun angka (Arikunto 1993: 91). Data yang dikumpulkan berupa informasi tentang hasil belajar matematika, serta kemampuan guru dalam menyusun rencana pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran (termasuk penggunaan strategi pembelajaran ) di kelas.

2.        Sumber Data

Data penelitian yang dikumpulkan berupa informasi tentang hasil belajar matematika siswa serta kemampuan guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dan mengobservasi ketika pembelajaran sedang berlangsung. Data penelitian itu dikumpulkan dari berbagai sumber yang meliputi :

1)             Informan atau nara sumber, yaitu siswa kelas IV SD Negeri Kratonan 03 Surakarta dan guru.

2)             Dokumen atau arsip yang berupa foto kegiatan siswa di kelas, lembar observasi guru dan siswa dan tes hasil belajar.

E.       Teknik Pengumpulan Data

Penelitian tindakan kelas dilakukan bersifat deskriptif kualitatif. Sumber data primer adalah peneliti yang melakukan tindakan dan siswa yang menerima tindakan, sedangkan data sekunder berupa data dokumentasi. Pengambilan data dapat dilakukan dengan teknik observasi, metode angket, metode tes dan dokumentasi.

1.      Observasi

Suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengumpulan data berdasarkan pengamatan secara teliti dan sistematis (Arikunto, 2002: 28). Observasi dilaksanakan sendiri oleh peneliti secara langsung dalam kegiatan belajar siswa dikelas yang dijadikan sampel dalam penelitian ini.

  1. Metode Angket

Untuk mendapatkan data tentang motivasi belajar digunakan instrumen berupa angket. Dalam penelitian ini bentuk angket yang digunakan adalah pilihan ganda yaitu suatu bentuk angket dimana responden tinggal memilih alternatif jawaban yang telah disediakan dengan 4 alternatif.

3.      Metode tes

Tes digunakan untuk mengetahui perkembangan hasil belajar matematika. Tes adalah serangkaian pertanyaan yang harus dijawab / dilakukan untuk menunjukkan seberapa baik orang mengetahui tentang sesuatu atau seberapa baik orang dapat melakukan sesuatu. Dilihat dari pelaksanaannya, tes dapat dibedakan menjadi tes lisan, dan tes pembuatan, dilihat dari cara pengoreksiannya tes dapat dobedakan menjadi tes subjektif (essay) dan tes objektif dan dilihat dari pembuatannya, tes dapat diklasifikasikan menjadi tes buku (standar) dan tes buatan guru.

4.      Dokumentasi

Teknik pengumpulan data yang bersumber dari dokumen dan arsip. Dokumen berupa daftar nilai, daftar hadir siswa dan arsip-arsip lain yang dimiliki guru kelas IV.

 F.       Teknik Pemeriksaan Validitas Data

                  Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua validitas yaitu trianggulasi teori dan validitas kurikulum / isi. Trianggulasi teori digunakan untuk data yang berkenaan dengan proses pembelajaran. Dalam mengamati proses pembelajaran, peneliti menggunakan teori-teori tentang pembelajaran yang inovatif untuk membuat panduan pengamatan dalam proes pembelajaran yang dilaksanakan dalam penelitian ini. Sedangkan data tentang hasil belajar menggunakan validitas kurikulum / isi yaitu tes yang akan digunakan untuk mengungkap hasil belajar harus sesuai dengan indikator / tujuan pembelajaran serta materi pembelajaran.

 G.      Teknik Analisis Data

Yang dimaksud analisis data adalah cara mengelola data yang sudah diperoleh dari dokumen. Agar hasil penelitian dapat terwujud sesuai dengan tujuan yang diharapkan maka dalam menganalisis data penelitian ini menggunakan analisis model interaktif Milles dan Huberman. Kegiatan pokok analisa model ini meliputi : reduksi data, penyajian data, kesimpulan-kesimpulan penarikan / verifikasi (Milles dan Huberman, 2000: 20).

Adapun rincian model tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Reduksi Data

Reduksi data yaitu proses pemilihan perhatian pada penyederhaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis dilapangan, reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan dengan cara sedemikian sehingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi (Milles dan Huberman 2000 : 16).

2. Penyajian Data

Penyajian data yaitu sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dalam pelaksanaan penelitian penyajian-penyajian data yang lebih baik merupakan suatu cara yang utama bagi analisis kualitatif yang valid.

3. Menarik kesimpulan / Verifikasi

Setelah data-data direduksi, disajikan langkah terakhir adalah dilakukannya penarikan kesimpulan : penarikan / verifikasi. Data-data yang telah didapatkan dari hasil penelitian kemudian diuji kebenarannya. Penarikan kesimpulan ini merupakan bagian dari konvigurasi utuh, sehingga kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung. Verifikasi data yaitu : pemeriksaan tentang benar dan tidaknya hasil laporan penelitian. Sedang kesimpulan adalah tinjauan ulang pada catatan di lapangan atau kesimpulan dapat diuji kebenarannya, kekokohannya merupakan validitasnya. (Milles Huberman, 2000:19).

Berdasarkan uraian di atas maka reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan / verifikasi sebagai suatu yang jalin-menjalin pada saat sebelum, selama dan sesudah pengumpulan data dalam bentuk yang sejajar, untuk membangun wawasan umum yang disebut analisis. Kegiatan pengumpulan data itu sendiri merupakan siklus dan interaktif.

Oleh karena penelitian ini sifatnya kualitatif maka diperlakukan adanya objektifitas, subjektivitas, dan kesepakatan intersubjektifitas dari peneliti agar hasil penelitian tersebut mudah dipahami bagi para pembaca secara mendalam.

Langkah yang akan ditempuh dalam penelitian ini adalah :

1.        Melakukan analisis awal, bila data yang didapat dikelas sudah cukup data yang dikumpulkan.

2.        Mengembangkan bentuk sajian data dengan menyusun coding dan matrik yang berguna untuk penelitian selanjutnya.

3.        Melakukan analisis data di kelas dan mengembangkan matrik antar unsur.

4.        Merumuskan simpulan akhir sebagai temuan penelitan.

5.        Merumuskan kebijakan sebagai bagian dari pengembangan saran dalam laporan akhir penelitian.

 H.      Indikator Kinerja

Indikator kinerja merupakan rumusan kinerja yang akan dijadikan acuan dalam menentukan keberhasilan atau keefektifan penelitian. Yang menjadikan indikator kinerja dalam penelitian ini adalah apabila 80 % dari jumlah siswa dalam mengerjakan soal tes mendapat nilai ≥ 60.

 

I.       Prosedur Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, yakni suatu penelitian yang mengkaji tentang permasalahan-permasalahan yang ruang lingkupnya tidak terlalu luas yang berkaitan dengan kemampuan siswa. Penelitian ini bersifat praktis situasional, kondisional dan kontekstual berdasarkan permasalahan yang muncul dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari di sekolah. Kepala sekolah, guru matematika dan peneliti senantiasa berupaya memperoleh hasil yang optimal melalui cara dan prosedur yang dianggap paling efektif, sehingga memungkinkan adanya tindakan yang berulang-ulang dengan revisi untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika.

Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan menjamin diperolehnya manfaat yang lebih baik. Langkah-langkahnya yang ditempuh dalam penelitian ini adalah:

  1. Dialog awal
  2. Perencanaan tindakan
  3. Pelaksanaan tindakan
  4. Observasi dan monitoring
  5. Refleksi
  6. Evaluasi, dan
  7. Penyimpulan hasil berupa pengertian dan pemahaman

 

Gambar 3.1 Langkah-langkah PTK

Sumber: Modifikasi dari Kemmis dan MC Taggart (Zainal Aqib, 2006: 100)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: